Kategori Artikel : "WARTA NASIONAL"


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Set Desain Hari Santri 2017 ialah desain-desain atau atribut yang dipergunakan dalam rangka menyambut Hari Santri 2017. Hal ini dimaksudkan agar perwakilan di daerah bisa mendapati keseragaman desain dan atribut untuk peringatan Hari Santri 2017. Hanya tinggal Download dalam website ini.


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID ~ Sikap Hubbul Wathon yang Harus Ditunjukkan Segenap Rakyat Membantu Pemerintah Menghadapi Kasus Freeport di Pengadilan Arbitrase Internasional
Akhir-akhir ini mencuat kasus pertambangan emas terbesar di dunia yang dimiliki PT Freeport Indonesia di Provinsi Papua, Indonesia. Kasus ini memanas hingga Richard C. Adkerson, presiden McCoran Freeport Inc., induk PT Freeport Indonesia akan membawa kasus ini hingga ke pengadilan arbitrase internasional. Permasalahan muncul karena PT Freport Indonesia yang awalnya bertatus kontrak karya tidak mau menuruti peraturan menteri ESDM untuk merubah statusnya menjadi Ijin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) guna memperleh ijin eksport hasil tambang dari lokasi pertambangan di Timika ke Amerika Serikat. Presiden McCoran Freeport Inc. mengatakan bahwa IUPK memberi dampak yang tidak menguntungkan bagi perusahaannya.
Sebagaimana diketaahui, PT Freport Indoneia telah berdiri sejak awal orde baru di bawah kepemimpinan Suharto. Perusahaan tersebut memiliki prosentase yang besar terhadap keuntungan pertambangan di Timika, Papua. Tentu tidak akan mudah bagi PT Freeport untuk melepaskan sahamnya kepada pemerintah ataupun perusahaan yang berpusat di Indonesia. Sebagaimana dalam peraturan IUPK, pemegang dalam hal ini PT Freport harus melepaskan hingga 51 % saham perusahaan. Tentu tidak akan mudah bagi PT Freeport melepaskan saham pertambaangan yang selama 50 tahun atau setengah abad ini sudah memberikan keuntungan yang tak ternilai jumlahnya dari bumi papua.
Menyikapi hal itulah, PT Freeport McCoran melalui presiden perusahaan Richard C. Adkerson berupaya mengajukan permasalahan yang dihadapi ke pengadilan arbitrase internasional. Dalam kasus ini, PT Freeport McCoran melaporkan pemerintah Republik Indonesia atas klaim pertambangannya di Timika, Papua sehingga Pemerinta Indonesia dalam hal ini akan berhadapan dengan PT Freeport McCoran di pengadilan arbitrase internasional.
Sebagai sebuah negara yang besar dengan jumlah penduduk yang besar pula, tentunya haraapan pemerintaah adalah ingin memanfaatkan setiap sumber daya alam berupa tanah, air dan kekayaan alam lainnya yang ada di Indonesia untuk kemslahatan warganya sebagaiman amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 3. Termasuk dalam hal ini adalah sumber daya mineral yang selama ini ‘dibiarkan’ luput dari memberi manfaat kepada warganya di PT Freeport Indonesia, Papua. Pemerintah dalam masalah ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri menghadapi keangkuhan penjajah asing yang ingin terus menerus mengeruk kekayaan Indonesia melainkan harus dibantu dengan sikap dan dukungan dari rakyatnya. Hal ini harus dipahami bahwa kemenangan pemerintah Indonesia akan membawa dampak kemakmuran bagi rakyat Indonesia utamanya Papua yang selama ini selalu tertinggal dalam berbgai hal.
Menyikapi hal tersebut, ternyata beberapa wakktu yang lalu ketua organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, Partai Besar Nahddlotul Ulama’ (PBNU) yakni KH. Aid Aqil Siroj telah menyampaikan sikapnya mewaakili sseluruh masyarakat NU di Indonseia. Sikap yang berisi dukungan moral Nahddlotul Ulama’ (NU) tersebut disampaikan oleh Said Aqil ketika bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di kantor Kementerian ESDM Jakarta lima hari yang lalu tepatnya pada 20 Februari 2017. Sikap PBNU tersebut tentunya mewakili aspirasi seluruh mssyarakat NU atas permasalahan yang saat ini dihadapi oleh pemerintah.
Sikap yang disampaikan oleh Said Aqil dan utamanya kalangan nahdlliyin adalah upaya memberikan dukungan dalam rangka melakukan pembelaaan atas apa yang saat ini terjadi di tanah air Indonesia. Sikap ini merupakkan sikap yang diajarkan oleh guru piritual terbesar bagi kalangan Nahddlotul Ulama’, KH. Hasyim Asy’ari bahwa dalam memperjuangkan segenap tumpah darah adalah bagian dari iman atau dalam Bahasa arab dikenal dengan istilah Hubbul Wathon Minal Iman. Hal ini pernah dijalankkan oleh kalangan Nahddlotul Ulama’ dalam rangka mempertahanan kemerdekaan di awal masa revolusi. Yakni ketika terjadi pertempuran 10 November di Surabaya dimana waktu itu myarakat NU, khususnya kalangan santri rela berperaang demi memperthnn keutuhan NKRI sebagai bagian dari jihad Islam.
Kini ketika kemerdekan sudah tercapai, berjuang di medan perang bukan lagi menjadi sebuah bentuk yang relevan untuk menunjukan hubbul wathon atu cintaa tanah air. Upaya menunjukan hubbul wathon atau cinta tanah air saat ini dibuktikan dengan upaya riil membela harkat dan martabaat bangsa dari berbagai upaya asing yang ingin merendahkan kedaulatan bangsa dan negara.
Dengan adanya upaya PT. Freeport yang tidak ingin patuh pada peraturan pemerintah bahkan mengajukan keberatannya hingga ke pengadilan arbitrase internasional, inilah saatnya masyarakat NU khususnya serta utamanya seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu menunjukkan rasa cintanya terhadap tanah air dengn cara bersikap melawan keangkuhan PT. Freeport. Serta utamanya bagi masyarakat mulim sebagai mayoritas pemeluk agama di tanah air ini, membentuk barikade hubbul wathon untuk menolak PT. Freport akan jauh lebih mulia dalam rangka jihad fi sabilillah daripada membentuk barikade yang mempermasalahkan kasus hukum segelintir oknum yang tidak di sukai.
Dengan adanya sikap yang sama dalam rangka mendukung pemerintah untuk mengtasi kasus ini, paling tidak akan ada dorongn semaangat bagi pemerintah untuk memenangkan kasus Freeport di pengadilan arbitrase internasional. Tentunya tidak lupa dengan doa dan upaya riil berupa sikap dukungan terhadap pemerintah, kemenangan untuk pemerintah yang berarti kemenangan untuk rakyat Indonesia adalah sebuah harapan besar yang ditunggu-tunggu kedatangnnya.


TIM REDAKSI

Lembaga Pers & Penerbitan IPNU Kab. Semarang
Jurnalis : Nur Kholis

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Bayak perubahan dalam organisasi IPNU terkait Peraturan Dasar maupun Peraturan Rumah Tangga dan hal lain. Tentu saja perubahan itu untuk membangun IPNU kedepan yang lebih baik. Sudah seyogyanya sebagai Kader IPNU haruslah tahu hal apa yang telah berubah, agar tidak menyesatkan yang lainnya. Kader maupun anggota yang telah berbaiat dalam kegiatan MAKESTA maupun Pengurus yang telah mengucapkan ikrar pelantikan, tentu haruslah menaati segala Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD PRT) IPNU karena secara tidak langsung kalian telah berjanji dan tidak ada paksaandari pihak manapun.
Bagi kader-kader IPNU, silahkan baca dan pelajari hasil-hasil keputusan dalam Kongres XVIII IPNU di Asrama Haji Donohudan-Boyolali, Jawa Tengah Kemarin. Agar kita semakin tahu aturan yang sebenarnya.Salam Belajar. Berjuang, Bertaqwa.
Silahkan download dengan klik Link dibawah ini :

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Pada 24 Februari mendatang, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) genap berusia 63 tahun. Pada pembukaan Latihan Kader Utama (Lakut) angkatan I di Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jumat, (27/1), Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid meluncurkan logo harlah IPNU ke-63.

Asep menjelaskan makna dari gambar yang disajikan di tembok melalui media proyektor yang disambungkan ke laptop. Secara umum, logo tersebut seperti jilatan api. Hal ini sebagai suatu simbol atas kobaran semangat semboyan pelajar NU, yakni belajar, berjuang dan bertaqwa.

“Secara garis besar tampilan logo harlah IPNU ke-63 ini adalah jilatan api sebagai simbol kobaran semangat belajar, berjuang, dan bertaqwa,” ujar Asep.

Lebih seksama, pada gambar tersebut juga terdapat bulu. Ini diibaratkan sebagai ilmu pengetahuan yang luas.

Api pada logo tersebut, dilihat dari arahnya, menjulur ke atas dan ke bawah. Hal ini dimaknai sebagai hablu minaallah untuk api yang menjulur ke atas, dan habl minan nas untuk api yang menjulur ke bawah.

“Simbol api dalam logo ini menjulur ke atas dan ke bawah bermakna hablum minallah hablum minan nas,” katanya.

Selain itu, jika dilihat dari warnanya, api yang berwarna hijau diartikan sebagai perwakilan pelajar santri, sementara api berwarna merah melambangkan pelajar secara umum.

Adapun bulu berwarna merah dan putih, dituliskan dalam salah satu slide, bermakna peneguhan pelajar dan santri sebagai garda terdepan penjaga NKRI.

nu.or.id

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Seperti ramai diberitakan, Ahok telah meminta maaf melalui keterangan tertulis kepada wartawan dan sebuah tayangan video. Dia meminta maaf setelah dianggap memojokkan Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, KH Ma'ruf Amin yang bersaksi dalam sidang kasus dugaan penodaan agama, Selasa (31/1).

Kepada sejumlah media, KH Ma'ruf Amin mengakui sudah memaafkan Ahok. "Namanya orang sudah minta maaf masa tidak dimaafkan," kata Kiai Ma'ruf Amin, Rabu (1/2). Pada saat yang sama, Kiai Ma’ruf mengimbau kepada semua kader PBNU di seluruh Tanah Air untuk juga memaafkan Ahok. Menurut dia, kader PBNU harus tenang dan bisa menahan diri.

Terkait hal ini, Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Serba Guna (Banser) Jawa Timur akan melakukan hal serupa. Yakni tidak akan melaporkan Ahok terkait ucapannya yang dianggap merendahkan dan menghina Kiai Ma'ruf. Hal ini sejalan dengan sikap dan teladan Rais Aam PBNU tersebut yang telah memaafkan Ahok.
Pernyataan ini disampaikan Ketua GP Ansor Jawa Timur, H Rudi Tri Wachid, Kamis (2/2). Menurutnya, kader Ansor dan Banser mengikuti sikap Kiai Ma'ruf yang telah memaafkan Ahok.
"Karena Kiai Ma'ruf sudah memaafkan, kita akan mengikuti sikap kiai kita," kata H Rudi Tri Wachid. Apalagi permintaan maaf berupa video dan pernyataan tertulis telah dilakukan serta tersebar di media sosial.
Kasatkorwil Banser Jatim, H Moh Abid Umar juga menjelaskan bahwa Banser lahir batin menjaga marwah ulama dan kiai NU sekaligus benteng terdepan NKRI.
"Kami adalah benteng dari Nahdhatul Ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Perintah Rais Aam KH Ma'ruf Amin agar kader NU harus tenang dan bisa menahan diri, wajib kami taati," terang Gus Abid, sapaan akrabnya.
Kedati demikian, ia mengingatkan berbagai kalangan jangan sekali-kali menyenggol dan menghina ulama dan kiai NU. "Banser akan berdiri di depan," tegas Gus Abid.
Hal serupa disampaikan Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim Bidang Infokom, H Mochamad Nur Arifin. Gus Ipin, sapaan akrabnya mengemukakan bahwa Ansor Jatim siap setia membentengi NU dan pesantren dari pihak yang ingin mengadu domba, menebar kebencian dan menciderai kebhinekaan.
"Kami akan selalu siap menunggu instruksi untuk menjaga marwah dan sebagai benteng NU dan NKRI dari pihak yang sekadar nabok nyilih tangan," ungkap Gus Ipin.
"Mari kita jadikan kejadian ini untuk semakin meneguhkan rasa ukhuwah nahdliyah, persaudaraan sebangsa dan setanah air," tegasnya. Selanjutnya, semua pihak harus menjaga ketenangan negara dari provokasi dan ujaran kebencian oleh gerakan yang mengancam keharmonisan beragama, berbangsa dan bernegara, urainya.
Di akhir paparannya, Gus Ipin berpesan untuk menjadikian peristiwa ini sebagai sarana mengedepankan kesantunan dalam bersikap. "Jadikan ini pembelajaran bersama untuk mengedepankan kesantunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," pungkasnya.
nu.or.id

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair mengatakan bahwa untuk mengetahui siapa warga Nahdliyyin terlebih dahulu harus mengetahui latar belakang, tujuan dan siapa yang mendirikan.

"NU itu berdiri tahun 1926 M, tepatnya tanggal 31 bulan Januari. Berdirinya Nahdlatul Ulama itu berdiri pertama kali lewat Muktamar. Muktamar pertama kali itu berakhir pada tanggal 31 Januari. Memilih Rais Akbar Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy'ari) dan wakilnya Kiai Faqih Maskumambang," jelasnya kepada NU Online, Kamis (2/2), di Rembang, Jawa Tengah.

Mbah Moen, sapaan akrabnya menambahkan, Muktamar pertama itu dihadiri banyak ulama. Ada beberapa keanehan yang berusaha dijelaskan kiai karismatik itu. Ia menjelaskan terkait segi bahasa yang digunakan dalam penamaan Nahdlatul Ulama tersebut.

"Banyak kiai yang meng-isghal-kan (mempertanyakan) kenapa dinamakan Nahdlatul Ulama. Kata Nahdlatul Ulama itu masdar dari nahdlah, yang mengikuti wazan fa'la yang disebut sebagai masdar marrah (isim yang menunjukkan peristiwa terjadi hanya sekali)," terangnya.

Jadi inilah yang menjadi harapan organisasi  kemasyarakat Islam Nahdlatul Ulama, yakni dengan sekali bangkit, lalu bertahan untuk selamanya. Kita harus menjaga, mempertahankan sifat, corak, bentuk NU sesuai dengan tujuan berdirinya pertama kali, dengan tetap mendahulukan para ulama-ulama.

"Sehingga kalau ada pertanyaan siapa warga Nahdlatul Ulama? Jawabannya, menurut dahulu kala, ada anggota alami dan ada organisasi. Anggota organisasi yaitu yang tercatat menjadi anggota, sedangkan yang alami adalah mereka yang mengikuti para ulama," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Kabupaten Rembang itu.

nu.or.id

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima kunjungan silaturahim duta besar baru Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R Donovam, di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (2/2) sore.

Saat menerima rombongan tamu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj memulai pembicaraan dengan menyinggung soal kebijakan presiden baru Amerika Serikat, Donald Trump yang melarang imigran dari tujuh negara Muslim, yakni Irak, Suriah, Iran, Sudan, Libya, Somalia, dan Yaman.

Menurutnya, larangan tersebut mengesankan Trump semakin menjauhi Islam dan menggeneralisasi bahwa Islam identik dengan terorisme. Ketujuh negara tersebut, tambah Kiai Said, berpenduduk Muslim yang mayoritas antiradikalisme.

Ia melihat gejala munculnya kelompok garis keras seperti ISIS, Al-Qaeda, Hizbullah, atau Jabhah Nusroh di Timur Tengah dipicu oleh sikap berang mereka menyaksikan kezaliman Israel. “Warga ditembaki, anak-anak dibunuhi, hampir tiap hari. Sementara AS dalam kasus ini kesannya menggunakan standar ganda,” ujarnya.

Indonesia, kata Kiai Said, banyak belajar demokrasi dan hak asasi manusia dari AS. Namun, dalam kasus kezaliman Israel, AS sepertinya tak menunjukkan prinsip-prinsip yang diyakininya itu.

Kiai Said menegaskan bahwa radikalisme potensial dimiliki oleh seluruh agama, bukan hanya Islam seperti yang dipersepsikan Trump. Ia meminta AS berkaca pada Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar yang begitu menghargai keanekaragaman yang ada.

Buah Kecemasan
Menanggapi kritik tersebut, Joseph menjelaskan, kebijakan presiden barunya itu adalah respon terhadap kecemasan warga AS yang menganggap pemerintah setempat tak terlalu melindungi dan memberi rasa aman kepada mereka.

“Dan penangguhan program pengungsian itu pun tidak selamanya. Hanya bersifat sementara,” ujar dubes yang baru saja menggantikan dubes Amerika sebelumnya, Robert Orris Blake Junior yang purna tugas di Indonesia.

Joseph menegaskan bahwa hubungan kemitraan antara Indonesia dan Amerika sangatlah penting. Ia mengajak NU untuk bersama-sama menghapuskan kecemasan itu. “Negara kita adalah negara majemuk. Saya berharap kita bisa belajar bersama bagaimana meningkatkan toleransi,” katanya di hadapan para pengurus PBNU.

Joseph yang datang bersama rombongan juga disambut hangat oleh Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendum PBNU H Bina Suhendra, Ketu PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU Robikin Emhas, dan sejumlah pengurus lain.

Marsudi mengaku saat dikontak wartawan internasional, ia turut mengucapkan selamat kepada Donald Trump sebagai presiden AS yang baru. Hanya ia meminta Trump menegakkan kesetaraan baik bagi Muslim maupun non-Muslim di sana.

nu.or.id

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R Donovam berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (2/2) sore. Ia diterima langsung Ketum PBNU KH Said Aql Siroj di ruanganya.

“Saya tahu kemarin Nahdlatul Ulama memperingati hari lahir. Karena itu saya mengucapkan selamat hari lahir yang ke-91,” kata dubes yang mengaku baru tinggal di Indonesia selama sekitar dua bulan ini membuka pembicaraan.

Joseph baru saja menggantikan dubes Amerika sebelumnya, Robert Orris Blake Junior yang telah mengakhiri masa tugasnya di Indonesia. Sebelumnya, Joseph menjabat sebagai Direktur Institut AS di Taiwan yang telah berdiri sejak 2014.

Dalam pertemuan tersebut, ia mengatakan sangat terkesan dengan umat Islam di Indonesia ketika pertama kali mulai menyapa masyarakat di sini. Joseph bercerita, sebelumnya dirinya disambut dengan ramah saat mengunjungi sebuah pesantren di Jawa Tengah Januari lalu.

Joseph mengajak NU untuk menjalin kemitraan dengan pihaknya khususnya di bidang toleransi dan pendidikan. “Ada tujuh ribu pelajar asal Indonesia yang kini sedang belajar di Amerika Serikat. Ini naik tujuh persen. Saya berharap jumlah tersebut terus meningkat,” tuturnya.

Kiai Said menyambut baik tawaran itu dan menyarankan agar banyak warga pesantren yang bisa belajar ke negara berjuluk “Negeri Paman Sam” ini. Sebelumnya ia menyampaikan kritik terhadap presiden baru Amerika Donald Trump yang terkesan menggeneralisisasi Islam dengan label negatif.

Kiai asal Cirebon ini lantas mengenalkan Islam Nusantara yang secara garis besar meyakini bahwa budaya dan agama memiliki hubungan sinergis. “Budaya menjadi infrastruktur agama. Dengan tradisi lokal, Islam di Indonesia menjadi kuat dan tak tercerabut dari masyarakat,” jelasnya.

Joseph yang datang bersama rombongan juga disambut hangat oleh Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendum PBNU H Bina Suhendra, Ketu PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU Robikin Emhas, dan sejumlah pengurus lain.

NU.OR.ID

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID -  Berdirinya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) tidak melalui proses instan, tetapi lewat proses panjang dan berliku oleh para kiai pesantren yang didukung oleh sejumlah ulama Nusantara yang kala itu bermukim dan mengajar di Haromain.

Menjelang NU berdiri, Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan menjelaskan bahwa ulama-ulama di Haromain berkumpul termasuk KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang saat itu juga berada di Mekkah dan berusaha menyampaikan maksud pendirian NU kepada para gurunya itu. Mereka sepakat menyarankan KH Hasyim Asy’ari pulang ke Indonesia untuk menemui 2 ulama besar.

“Sejumlah ulama yang berkumpul tersebut menyampaikan kepada Mbah Hasyim, kalau 2 ulama ini mengiyakan, jalan terus, tetapi jika tidak, jangan diteruskan. Dua ulama ini yaitu Habib Hasyim bin Umar bin Thoha bin Yahya Pekalongan dan Mbah Kholil Bangkalan,” ungkap Habib Luthfi saat menerima Tim Anjangsana Islam Nusantara STAINU Jakarta di Pekalongan bulan lalu, tepatnya 23 Januari 2017 tengah malam.

Pemimpin Kanzus Sholawat Pekalongan ini melanjutkan, Mbah Hasyim ditemani sejumlah kiai di antaranya KH Asnawai Kudus menemui Habib Hasyim di Pekalongan kemudian Mbah Kholil Bangkalan di Pulau Madura.

Rasa bahagia dan puas memenuhi hati Mbah Hasyim karena dua ulama besar yang direkomendasikan para gurunya di Haromain itu mempersilakan Mbah Hasyim dan para kiai lain untuk mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama.

“Saking mulia dan sikap tawadhunya dua ulama itu, mereka meminta kepada Mbah Hasyim agar namanya tidak disebut,” ujar Habib Luthfi. Keterangan mengenai sejarah berdirinya NU dan sejumlah ulama yang berkontribusi, jauh telah Habib Luthfi sampaikan dalam peringatan Harlah NU tahun 2010 silam di Pekalongan, Jawa Tengah.

Pelajari sejarah dengan tuntas

Dalam kesempatan diskusi dengan tim Anjangsana Islam Nudantara tersebut, Habib Luthfi bin Yahya juga berpesan, mempelajari sejarah masa lalu adalah sebuah keharusan. Terlebih bagi para generasi pemuda saat ini. Menurutnya, sejarah bisa dijadikan ibrah dan marajiul hayat (parameter kehidupan) hari ini dan masa mendatang.

Di samping itu, katanya, mempelajari sejarah harus tuntas. Tidak sepenggal-sepenggal. Data-data yang digunakan juga harus valid. Hal ini penting, terlebih di tengah munculnya orang-orang yang mempertanyakan keotentikan sejarah Walisongo.

Rais Aam Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlith Tharoqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) ini menerangkan, konsep Walisongo adalah periodik. Setiap wali menggantikan posisi wali yang lain. Di era Sunan Ampel dan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Geseng, Sunan Tembayat adalah bagian dari Walisongo. Jadi, nama-nama Walisongo yang makamnya sering diziarahi tidak semuanya hidup dalam satu periode.

Atas saran Habib Luhtfi terkait peran Habib Hasyim dalam pendirian Nahdlatul Ulama, tim Anjangsana Islam Nusantara yang terdiri dari 17 orang itu meluncur ke makam leluhur Habib Luhtfi tersebut yang terletak tidak jauh di komplek Makam Sapuro Pekalongan, Selasa (24/1) dini hari.
nu.or.id

KONTAK KAMI (VIA E-MAIL)

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget