Posting Terbaru

Gambar Hanya Ilustrasi
Ungaran (ipnuippnukabsemarang.or.id) - Di suatu malam yang ditumpahi cahaya bulan, seorang kiai sepuh dari Jawa Timur bertutur. Ratusan santrinya menyimak kalimat demi kalimat yang keluar laksana mutiara. Dengan nada pelan dan santai, sang kiai memberi nasehat yang kurang lebih demikian:

***
Saya ini dulu sudah mengaji lebih dari tiga puluh tahun, tapi perasaan saya tak dapat ilmu,  kecuali hanya sedikit saja. Namun, saya selalu setia dengan proses ini, proses belajar ala pesantren, taat pada metode pembelajaran para kiai dan ulama salaf.

Pernah, ketika dulu mengaji Kitab Ihya Ulumuddin baru beberapa lembar saja, kiai saya sakit, sampai dua tahun, mendekati tiga tahun. Selama itu pula saya setia menunggu beliau. Setelah beliau sembuh, saya baru dapat melanjutkan mengaji Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Saya juga mengaji kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari.

Alhamdulillah, seletelah tiga puluh tahun lebih mengaji, saya dapat membaca kitab-kitab (kuning) apa saja yang telah diajarkan oleh kiai saya. Namun, seakan itu hanya di lidah saya saja, tak sampai tenggorokan. Belum menancap di hati saya. 

Kemudian, tanpa saya duga, kiai saya meminta saya untuk menikahi putri beliau. Saya kaget: kenapa mesti saya? Saya itu  kan tidtak punya apa-apa? Saya juga bukan kategori orang yang bisa bekerja. Usut punya usut, ternyata kiai saya menikahkan putrinya kepada saya justru karena ketidakpunyaan saya. Karena saya tidak punya harta benda. Ini, lho, berkah saya tidak punya apa-apa, saya malah menjadi menantu kiai saya.

Saudara saya membanyol: kiai memilih kamu (yang tidak punya apa-apa) agar kamu tidak berani mempoligaminya! Haha, banyolan saudara saya ini ada-ada saja. Mana mungkin saya berani menduakan putri kiai saya sendiri.

Kemudian saya membantu mengajar di pesantren kiai saya, sampai kemudian ayah saya meninggal dunia. Karena dirumah ayah saya punya pesantren, saya mesti kembali. Saya pamit kepada kiai saya:

Kiai, saya pamit, saya harus pulang, ayah saya meninggal dunia, kata saya. 

Kiai menjawab, oh iya betul, kamu harus pulang. Punya tinggalan pesantren harus terus dilestarikan.
Namun kiai, ada satu hal yang ingin saya minta: saya ini tidak punya apa-apa. Mohon minta doa amalan kepada kiai, agar saya mudah mendapat rejeki, pinta saya.

Bukannya diberi amalan doa, saya malah dimarahi: Huuussss!!! Kamu ini gimana, seperti tak percaya kepada Allah saja!!!

Sontak saya tercekat kaget, tak karu-karuan rasanya. Marah betul beliau.

Namun di situlah, di akhir-akhir dengan kiai saya itu, hanya pertemuan sekitar lima menit, ilmu kiai saya tertancap ke dalam hati. Karena marahnya kiai itu, saya jadi ingat semua apa-apa yang di dalam Al-Quran, Hadits dan kitab-kitab, termasuk yang ada di Ihya’ dan Hikam.

Saya jadi ingat ayat Al-Quran: Wa ma min dabbatin fil-ardhi illa ‘alallahi rizquha; dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya (QS. Hud [11]: 6). Saya jadi ingat: 

“...Wamayyattaqillaaha yaj ‘allahu mahrajan. Wayarzuqhu minhaitsu laayahtasib, wamayya tawaqal ‘alallaahi fahuwa hasbuhu, inalallaha balighu amrihi  qad ja ‘alallaahu liqulli syai in qodron.”. ...Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At-Thalaq: 65, 2-3)

Lima menit itu benar-benar mengubah saya. Yang tadinya ilmu hanya di lidah, sepertinya masuk ke hati saya. Hati saya jadi tawakkal, pasrah kepada Allah. Apa yang selama ini saya kaji di kitab-kitab itu, baru saya rasakan setelah kiai memarahi dalam tempo lima menitan itu. Saya jadi mantap menjalani hidup.

Kemudian saya bertanya kepada istri saya: Dik, kita akan pindah. Namun rumah ayah saya kini diwarisi adik saya. Saya sudah tidak punya rumah. Apa jawaban istri saya? 

"Saya tidak menikah dengan rumahmu, Mas." Begitulah jawabannya. Saya jadi lega.

Memang benar Hadis Nabi: memilih istri itu yang terpenting adalah karena faktor agamanya... fadzfarbidzaatitdieni, taribatyadaka.

Nabi Muhammad juga demikian: menjodohkan putrinya dengan Sayyidina Ali kw, salah seorang yang miskin (secara duniawi, namun pandai ilmu agamanya). Padahal, banyak sahabat Nabi yang kaya raya.

Juga demikian salah satu sahabat beliau, Abu Hurairah. Ketika beliau mendapati putrinya yang sudah berumur untuk menikah, beliau bertanya: lelaki seperti apa yang engkau mau? Sang putri menjawab: dua syarat. Pertama pandai dalam ilmu, dan kedua miskin. Abu Hurairah membalas balik: syarat pertama bisa kumengerti. Tapi, untuk apa syarat yang kedua? Sang putri menjawab: agar dia tidak berani nikah lagi. 

Begitulah. Orang-orang dulu begitu hati-hati dalam urusan harta. Maka saya minta, jika anda sekalian menuntut ilmu, niatnya jangan karena ingin harta. Jangan karena ingin jabatan atau kedudukan. Jangan karena ingin dipuji orang lain. Jangan karena dunia. Tapi niatilah menuntut ilmu untuk mencari ridla Allah semata. Insya Allah nanti Allah yang menjamin.

Itulah salah satu kandungan yang ada dalam kitab Ihya dan Kitab Hikam. Ini kitab tasawuf, yang kadang agak bertentangan dengan (pendpat ulama) fiqih. Namun, kitab ini ampuh, sudah diakui keramatnya.

Dulu, setelah jadi, kitab Ihya ini akan dilarang oleh seseorang yang alim.  Orang itu menyuruh murid-muridnya agar kitab itu dimusnahkan, karena isinya dianggap bertentangan. Sebelum sempat memusnahkan, orang itu mimpi bertemu dengan Rasulullah,  Abu Bakar dan Umar bin Khattab ra. Ia melihat Imam Ghazali bersamanya dan mengadukan perihal kitab ini yang ingin dibakar. Ternyata rasulullah mengatakan kitab itu baik. Rasulullah kemudian mencambuk orang yang alim itu. Meski dalam mimpi, ketika bangun tidur, bekas pukulan membekas dalam tubuh, sampai waktu yang lama. Setelah itu orang alim itu bertaubat, mau mempelajari kitab Ihya’ dan bahkan ditemui Rasulullah dalam mimpi. (Kisah lengkapnya dalam Kitab Awariful Ma'arif karya Imam Syaikh Syahrowardi, ed.)

Imam Ghazali - sang Hujjatul Islam, pengarang kitab itu – ternyata tak sembarangan dalam menulis hadits. Tiap kali menulis hadis untuk dimasukkan ke kitab Ihya, beliau berwudlu, kemudian shalat sunnah, kemudian istikharah terlebih dahulu. Pasca itu, sepertinya beliau dibimbing Nabi dalam mimpi, ataupun melalui peristiwa lain. Misalnya, setelah itu, hadis yang ditulis itu dicium, apakah baunya wamgi atau tidak? Kalau baunya wangi, ini berarti benar-benar dari nabi. Kalau tidak wangi beliu tinggalkan hadits itu, tidak dimasukkan dalam kitabnya.

Inilah, kehebatan para ulama salaf. Mengapa di pesantren kitab-kitab para ulama salaf masih kita kaji. Apa maksud dari kitab ulama salaf itu? Yaitu kitab-kitab yang dibikin oleh para ulama yang tulus, bersih, jujur, wira’i, dan hanya berharap ridha dari Allah. Bukan untuk mendapat ganti cetak (royalti) yang melebihi harga cetaknya. Beliau-beliau menulis bukan karena uang, ketenaran, jabatan atau yang lainnya, tapi karena mengharap Ridla Allah semata.

Maka, anda yang belajar di pesantren dan membelajari kitab karya ulama-ulama terdahulu harus bersyukur. Dan banggalah, jangan minder. Dan jangan berhenti belajar. Usahakan apa yang anda pelajari menjadi laku dan menancap dalam hati. Karena soal hatilah yang paling sulit di dunia ini. Kalau soal ilmu dunia, skill, itu mudah. Tapi soal hati ini sulit.

Banggalah jadi santri. Kiai Mahrus Ali, guru saya, itu ya cuma mengaji di pesantren seperti ini, tapi beliau bisa mencari solusi problem-problem kebangsaan, dan sering dengan Bung Karno dan tokoh bangsa lainnya. Mbah Hasyim Asy’ari dulu juga begitu, dengan mempelajari kitab-kitab para ulama salaf. Toh beliau mampu berkontribusi banyak untuk bangsa dan negara.

Jangan minder jadi santri. Bila perlu, pakailah identitasnya, seperti sarung dan peci misalnya. Mbah Mahrus Ali dulu pakai sarung, tak pernah pakai celana. Toh beliau diterima oleh segenap tokoh bangsa. Pula Kiai Hasyim Asy’ari, yang oleh Jepang dianggap Bapak Umat Islam Indonesia, kemana-mana sering pakai sarung. Dan beliau-beliau mampu menjadi rujukan persolan agama, bangsa dan negara.

Dan para kiai hari ini juga sebenarnya bukan tidak mengerti persoalan bangsa. Hanya karena memang ada yang sementara diam. Karena memang, dari kitab ulama salaf yang diajarkan di pesantren itu, bisa untuk apa-apa. Maka, banggalah jadi santri. Jangan pernah merasa minder. Nanti bangsa dan negara ini akan butuh kalian. Butuh orang-orang yang jujur dan berakhlak.

Kita bisa lihat, bagaimana kondisi negara ini hancur ditangan orang terdidik. BLBI belum selesai, ada Century. Century belum selesai, ada lagi dan lagi. Terus begitu, saking ruwetnya. Mereka tak akan kuat terus menerus seperti itu. Masalah belum ketemu solusi, sudah masalah lagi. Ini persoalan utama ada pada manusianya.

Nah, dalam beberapa tahun kedepan, bangsa dan negara akan butuh kalian, butuh orang orang yang jujur, bisa dipercaya. Orang-orang akan datang ke kita, ketika ketidakjujuran dan saling-tipu sudah membabi buta dimana-mana.

Mantapkanlah ilmu sampai kedalam hati. Meski kelak kamu jadi apa saja, dan melanglangbuana ke Eropa misalnya, hati kalian masih berpijak pada pesantren ini, memegang apa yang diajarkan para kiai dan ulama salaf.

Dan jangan lupa, untuk senantiasa shalat di awal waktu, dan lebih-lebih dilakukan secara berjamaah. Jika sudah beristri kelak, jadilah imam istri kalian dalam shalat berjamaah. Jika anda sekalian memenuhi kewajiban kalian, Insya Allah nanti Allah sendiri yang menata kalian.

Kadang kita ini malu. Bahkan, Ibnu Athaillah sendiri heran: kenapa untuk disuruh masuk surga saja harus “dipaksakan”. Ini kan mengherankan. Coba saja: shalat subuh berjamaah, misalnya, itu jelas sangat utama, jalan menuju syurga, tapi sulit orang menjalankannya. Padahal itu jalan menuju kebahagiaan.  Hal-hal yang wajib, lebih-lebih yang sunnah, itu kan dari Allah agar kita menuju ke kebahagiaan, tapi seringkali sulit orang melaksanakan.

Demikian, mudah-mudahan ini semua bermanfaat untuk kita semua. Amin Allahumma Amin.

***
Nasihat-nasihat itu, kurekam dalam kepala. Kuolah dengan penangkapanku, kemudian kusarikan dalam tulisan ini dengan caraku sendiri, yang jelas tak persis seluruhnya. Kuambil yang ingat-ingat saja, kutambahkan dan kurangi apa yang menurutku membantu pemahaman. Nasehati itu disampaikan oleh sang kiai sepuh ketika mengisi ceramah pada khataman Kitab Ihya dan Al-Hikam. Meski hanya sebentar, nasehat Kiai Sepuh itu begitu bermakna, dan mengingatkan kembali nilai-nilai islami dan kesantrian.

Kuketahui kemudian, kiai sepuh itu adalah almarhum KH. Abdul Aziz Mansyur, Pimpinan Pesantren Paculgowang. Mbah Aziz, begitu beliau bisa disapa, kemudian banyak menelurkan dan menyunting buku. Bahkan beliau menjadi pimpinan tertinggi (Ketua Dewan Syuro) PKB, dikenal kealimannya, serta menjadi tokoh nasional. Beliau bercerita semasa nyanti di Pesantren Lirboyo, Kediri. Dan ceramah itu, ditayangkan di TV9 malam jumat (28/12) lalu. Untuk beliau, al-Faatihah.




Editor : Danang PW

Gambar Hanya Ilustrasi
Ungaran (ipnuippnukabsemarang.or.id) - Kata sahibul hikayat, sampai umur 60 tahun, Nabi Ayub hidup diliputi oleh nikmat Tuhan di dalam suatu rumah tangga yang bahagia bersama istri yang setia dan anak-anak yang mencintainya. Tiba-tiba beliau ditimpa malapetaka; rumah dihanyutkan banjir, anak-anak meninggal di waktu muda, dan dirinya ditimpa penyakit.

Setelah beberapa bulan menderita yang demikian itu, istrinya berkata kepadanya, "Engkau seorang nabi dan doamu dikabulkan Tuhan. Sudah begini penderitaanmu, belum jugakah engkau hendak memohon kepada Ilahi agar dilepaskan dari bala bencana?"

Dengan senyum tenang Nabi Ayub menjawab, "Saya malu mengangkat mukaku agar dilepaskan dari pada bencana yang belum lama saya tanggungkan ini. Sebab saya tidak pernah lupa berpuluh tahun lamanya saya menerima nikmat-Nya."

Kita semua pasti penah merasakan suka dan duka. Padahal kedua-duanya mengandung nilai yang berujung pada kebaikan. Akan tetapi, tak dipungkiri. Sangat sulit bagi kita untuk bersyukur saat mendapat nikmat dan bersabar saat mendapat cobaan. Padahal kedua-duanya merupakan ujian bagi manusia.

Ibnu al-Jauzi berkata, "Ketika kepayahan terlewati, kebahagiaan akan mengabadi. Sebaliknya, ketika kebahagiaan terlewati, penyesalan yang akan mengabadi."

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, "Seorang penduduk neraka yang ketika di dunia paling berlimpah kenikmatan, didatangi malaikat. Setelah dicelupkan satu kali ke dalam api neraka, ia lalu ditanya, "Wahai anak adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah kamu pernah merasakan kebahagiaan? Ia menjawab, "Demi Allah, tidak, wahai Tuhanku.'

"Kemudian, seorang penduduk surga, yang ketika di dunia hidupnya paling sengsara, juga didatangi malaikat. Setelah dimasukkan satu kali ke dalam surga, ia lalu ditanya, 'Wahai anak adam, apakah kamu pernah melihat kesengsaraan? Apakah kamu pernah merasakan penderitaan? ia menjawab, 'Demi Allah, tidak pernah, aku tidak pernah merasakan kesengsaraan, tidak pula melihat penderitaan."

Kebanyakan dari kita menganggap bahwa musibah adalah masalah dan kenikmatan bukan masalah. Padahal secara esensial, keduanya memiliki tantangan yang harus dijawab. Saat kita mendapat nikmat, kita harus bisa menjawab tantangannya. Bersykurkah atau kufur?

Kisah Nabi Ayub di atas menunjukan betapa ia sangat sabar menghadapi ujian yang sangat berat. Dan sebelumnya, beliau selama 60 tahun hidup dalam kenikmatan. Hal ini menunjukan bahwa kebahagiaan dan kesengsaran merupakan dua hal yang selalu beriringan. Terkadang memang kita bahagia, terkadang pula kita mendapat sengsara.

Motivasi yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Ayub adalah bahwa saat beliau mendapatkan musibah, beliau sabar dengan mengingat bahwa beliau pernah merasa bahagia. Sehingga beliau malu  mengangkat muka beliau agar dilepaskan dari pada bencana yang belum lama beliau tanggungkan, sebab beliau berpuluh-puluh tahu merasakan kenikmatan dari Allah.

Kenapa kita bersedih terlalu dalam, padahal musibah kita tak sebesar Nabi Ayub. Teruslah ketuk pintu langit, panjatkan doa terus menerus kepada-Nya. Agar musibah, derita yang kau alami segera diganti dengan kebahagiaan. Jangan lupa berdoa juga agar saat kau bahagia tak lupa untuk bersyukur.



Sumber
Editor : Danang PW

Gambar Ilustrasi
Ungaran (ipnuippnukabsemarang.or.id) - Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dalam sebuah khutbah mengatakan, “Sesungguhnya Allah memberikan tawaran kepada seorang hamba antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu lebih memilih apa yang ada di sisi Allah.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq menangis. Para sahabat yang lainnya pun heran. Hingga akhirnya diketahui bahwa hamba yang dimaksud Nabi itu tak lain adalah Abu Bakar. Mereka memeng mengakui keutamaan pribadi sahabat yang juga mertua Rasulullah itu.

Dalam kesempatan lain, Nabi menyebut orang yang paling besar jasanya dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. "Andai saja aku diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Tapi cukuplah antara aku dengan Abu Bakar ikatan persaudaraan dan saling mencintai karena Islam," kata Rasulullah.

Sayyidina Abu Bakar termasuk kelompok orang yang paling awal masuk Islam (as-sâbiqûnal awwalûn). Selain loyalitasnya yang sangat tinggi terhadap Rasulullah, ia juga dikenal sebagai sosok yang amat zuhud dan punya keistimewaan lebih dari para sahabat lain. Reputasi di mata Nabi dan sahabat-sahabat inilah yang membuatnya dipercaya mengemban amanat sebagai khalifah pertama selepas Rasulullah wafat.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan Sayyidina Abu Bakar, baik melalui keteladanannya atau petuah-petuah yang disampaikannya. Salah satu yang bisa ditimba adalah cerita tentang saat-saat beliau menjelang wafat. 

Seperti ditulis Anîsul Mu'minîn, suatu kali Sayyidah 'Aisyah, putri beliau yang juga istri Rasulullah, datang kepada Abu Bakar yang kala itu sedang sakit.

"Wahai Ayah, bagaimana bila aku panggilkan dokter?" tanya 'Aisyah.

"Ayah sudah ditangani dokter."

"Lalu apa kata dokter?" tanya 'Aisyah penasaran.

"Ayah boleh melakukan apa yang Ayah inginkan." Pernyataan dokter semacam ini menunjukkan bahwa sakit Abu Bakar cukup parah dan mendekati kematian. 

"Dengan kain mana aku nanti mengafani jenazah Ayah?"

"Dengan baju yang biasa aku pakai saat makmum shalat bersama Rasulullah."

"Baju itu sudah usang. Apa tidak sebaiknya aku belikan kain kafan yang baru?" tanya 'Aisyah.

Jawab Abu Bakar, "Orang hidup lebih berhak atas sesuatu yang baru ketimbang orang mati."

Dialog 'Aisyah dan Abu Bakar tersebut membuktikan kematangan psikologi mereka dalam menyikapi fenomena kematian. Kematian bukan hal yang menyeramkan. Mati pasti terjadi sebagai jembatan berjumpa seorang hamba kepada Rabb-Nya, lalu mempertanggungjawabkan apa yang manusia perbuat selama di dunia.

Pilihan Abu Bakar agar dikafani menggunakan baju lusuh yang biasa dikenakan saat shalat berjamaah dengan Nabi mengesankan setidaknya dua hal. Pertama, kecintaan beliau yang begitu mendalam terhadap Rasulullah. Kedua, bukti kebersahajaan Abu Bakar yang istiqamah, saat hidup hingga maut menjemput.

Yang paling menarik adalah saat ia menjawab tawaran 'Aisyah yang hendak membelikan kain kafan baru. Ia menampiknya dengan alasan bahwa barang baru hanya layak untuk orang hidup, bukan orang mati. Pernyataan yang terakhir ini sejatinya bukan sekadar penolakan, melainkan pula pesan untuk mereka yang masih hidup bahwa gemerlap duniawi tak lagi relevan ketika jasad seseorang sudah tertimbun di dalam tanah. Wallahu a'lam. 




Sumber
Editor : Danang PW

Ketua PC. IPNU Kab Semarang Setelah Penyerahan Penghargaan OKP Terbaik 2017
Ungaran (ipnuippnukabsemarang.or.id) - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Semarang kembali meraih Piala OKP (Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda) TERBAIK Kabupaten Semarang tahun 2017.

Penghargaan ini datang dari DISDIKBUDPORA Kabupaten Semarang. Pada tahun 2016 OKP terbaik yang terpilih adalah PC IPNU Kabupaten Semarang dan pada tahun ini penghargaan inipun jatuh kepada PC IPNU Kabupaten Semarang hal ini tidak lepas dari peran aktif para pengurusnya dan anggotanya dalam menjalankan roda organisasi. Ketua PC IPNU Kab. Semarang Rekan M. Fahmi Latif menambahkan bahwa dengan suksesnya kita meraih penghargaan dan prestasi OKP terbaik Kab. Semarang ini semoga dapat menambah motivasi dan lebih bersemangat lagi dalam memajukan organisasi.

Dari puluhan OKP di Kabupaten Semarang tentu tidak mudah bagi PC IPNU Kab. Semarang untuk meraih penghargaan OKP Terbaik 2017 hal ini dibenarkan Ketua PC IPNU Kab. Semarang saat ditemui di kediamannya "Benar, tidaklah mudah dalam meraih penghargaan dan prestasi OKP terbaik ini. Selain roda organisasi harus aktif baik dalam kaderisasi maupun dalam menjalankan program kerja yang telah dirancang sebelumnya. 



Pada penghargaan ini PC. IPNU Kab. Semarang mendapatkan bantuan keuangan sebesar Rp. 3.000.000,- dana ini akan digunakan untuk lebih mengaktifkan lagi kegiatan - kegiatan baik ditingkat kabupaten maupun ditingkat kecamatan imbuh Ketua PC IPNU Kab. Semarang. Saat ini kepengurusan IPNU sudah merata di Kabupaten Semarang terhitung 19 kecamatan sudah memiliki PAC (Pimpinan Anak Cabang) yang merupakan kepengurusan IPNU ditingkat kecamatan.  Hal inilah yang menjadi salah satu alasan IPNU Kab. Semarang menjadi OKP Terbaik selain administrasi yang lengkap dan tertata serta keaktifan anggotanya dalam memutar roda organisasi.

Semoga penghargaan ini dan penghargaan serupa nantinya dapat lebih memacu motivasi seluruh OKP di Kabupaten Semarang dalam berjuang untuk kemajuan SDM di Kabupaten Semarang, serta mampu dalam membentengi Kabupaten Semarang dari berbagai serangan dari luar baik ideologi radikalisme maupun hal negatif lainnya.




Reporter : Danang PW
Editor : -


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Set Desain Hari Santri 2017 ialah desain-desain atau atribut yang dipergunakan dalam rangka menyambut Hari Santri 2017. Hal ini dimaksudkan agar perwakilan di daerah bisa mendapati keseragaman desain dan atribut untuk peringatan Hari Santri 2017. Hanya tinggal Download dalam website ini.

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID ~ Setelah melalui berbagai tahapan uji coba dan asahan ilmu yang begitu lama, kini tiba waktunya bagi kalian wahai Pelajar Nusantara khususnya Pelajar NU untuk melaksanakan Ujian Nasional yang mana bobot soal dan materinya semakin lebih berat lagi.

Mental jiwa baja penting supaya tetap tegar dan tenang dalam mengahadapi situasi dan kondisi yang menegangkan tentunya. Pelajar NU adalah pelajar yang tidak hanya cukup dengan belajar rajin saja, tetapi selalu menanamkan nilai - nilai perjuangan bagian dari ikhtiar kongkrit mengahadapi ujian, disisi lain masih ada yang lebih penting adalah selalu berdoa kepada Allah SWT supaya apa yang menjadi hajat keinginan bisa dikabulkan oleh-Nya dan satu lagi adalah membiasakan memohon do'a restu dari kedua orang tua, karena Ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua jua.


Selamat menempuh Ujian Nasional Tahun 2017 bagi seluruh Pelajar NUsantara. Semoga sukses dengan hasil nilai yang memuaskan.

Barokallah...
Amiin Amiin ya Rabbal Alamiin.

MUCHAMAD FAHMI LATIF 
KETUA PC IPNU KAB SEMARANG 2016-2018

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID ~ Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Tengah telah resmi dilantik pada Minggu (5/3/2017) di Wisma Perdamaian Semarang. Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua PP IPNU, Asep Irfan Mujahid dan Ketua IPPNU, Puti Hasni.

Ketua IPNU terpilih, Ferial Farkhan I.A. dalam sambutannya menyampaikan bahwa IPNU harus mulai dikenalkan di pesantren, selain juga tetap bergerak di sekolah-sekolah dan kecamatan seperti selama ini. “IPNU ini adalah calon-calon penerus NU di masa depan. Selain masuk ke sekolah-sekolah umum dan kecamatan-kecamatan, IPNU harus bisa menjadi wadah untuk alumni pondok pesantren. Karena IPNU inilah tempat bersatunya pelajar umum dan santri. Keduanya harus berkolaborasi”, terang sosok asal Brebes ini.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, S.H, M.IP berpesan bahwa IPNU-IPPNU harus bisa lebih intens masuk ke sekolah-sekolah. “IPNU-IPPNU harus bisa mempelajari pola-pola kajian di sekolah. Karena kita tahu sekarang banyak sekali pengaruh-pengaruh radikal melalui kajian seperti ini. Saya kira disinilah seharusnya IPNU-IPPNU berperan”, demikian terang Ganjar.

Hadir dalam acara pelantikan ini Gus Yusuf Chudlori, Gus Candra Malik dan H. Hasan Chabibie, MT yang setelah prosesi pelantikan menjadi narasumber dalam acara bertajuk “Ngaji Budaya: Peradaban Digital dan Dunia Pendidikan”.



TIM REDAKSI
Sumber : Jurnalis PW IPNU JATENG 

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID ~ Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Jawa Tengah mengucap ikrar bertajuk Deklarasi Pelajar Nusantara Anti Fitnah, pada Minggu (5/3/2017) di Tugu Muda Semarang.

Deklarasi ini memuat 4 poin pokok yakni, Kampanye penggunaan internet sehat, perlawanan dan pemantauan konten-konten hoax, penguatan benteng pelajar terhadal isu-isu fitnah, dan komitmen membangun pelajar melalui literasi dan digital.

Hadir dalam deklarasi ini Ketua PP IPPNU, Puti Hasniyah. Dalam sambutannya Puti menyatakan dukungannya terhadap aksi deklarasi seperti ini.“Saya sangat mendukung aksi ini. Hanya pesan saya, semangat seperti ini jangan hanya saat deklarasi. Pelajar NU harus konsisten menyuarakan kebenaran.”, terang Puti.

Ratusan kader IPNU-IPPNU Jawa Tengah membubuhkan tanda tangan dukungan terhadap aksi pelajar nusantara anti fitnah ini. Sebelumnya, terlebih dahulu, Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo, S.H, M.IP telah membubuhkan tanda tangan di kain yang sama saat pelantikan pengurus PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah di Wisma Perdamaian depan Tugu Muda Semarang.



TIM REDAKSI
Sumber :  Jurnalis PW IPNU JATENG 

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID ~ Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo, S.H, M.IP turut membubuhkan tanda tangan dalam deklarasi Pelajar Nusantara Anti Fitnah, hari ini (5/3/2017) di Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang.

Deklarasi ini di adakan oleh Pimpinan Wilayah IPNU IPPNU Jawa Tengah dalam rangkaian Proses Pelantikan PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah Masa Khidmat 2016-2019. “IPNU-IPPNU tidak boleh hanya fokus internal, tapi juga fokus dalam upaya-upaya pengawalan pelajar secara keseluruhan. Deklarasi ini menunjukkan komitmen bahwa IPNU-IPPNU ingin hadir secara nyata membangun pelajar yang berprestasi, alih-alih sibuk terjebak dengan fitnah dan caci maki”, terang Ferial Farkhan ketua IPNU terpilih.

Sementara itu dalam sambutanya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berpesan bahwa IPNU-IPPNU harus bisa lebih mewarnai kehidupan pelajar di Jawa Tengah. “Saya berharap IPNU-IPPNU bisa makin mewarnai, memberikan hal hal positif untuk perkembangan pelajar di jawa tengah”, terang beliau.

Penandatangan selanjutnya akan diikuti seluruh Pengurus PW IPNU-IPPNU dan utusan PC se Jawa Tengah di Tugu Muda Semarang jam 15.00. Selain Gubernur Jawah Tengah, turut membubuhkan tanda tangan Ketua Umum IPNU-IPPNU, Asep Irfan Mujahid dan Puti Hasni, beserta jajaran Pengurus dan sesepuh Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.



TIM REDAKSI
Sumber : Jurnalis PW IPNU JATENG

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID ~ Salah satu ulama Nusantara yang dikenal ahli dalam bidang ilmu falak adalah KH Ahmad Dahlan. Kiai Dahlan lahir di Termas Pacitan Jawa Timur 1862 dan wafat di Semarang 1911. Makam beliau berada di sisi timur Makam KH Sholeh Darat di Makam Bergota Semarang. Menyebut nama Ahmad Dahlan memang orang menjadi tertuju pada sosok pendiri Muhammadiyah. Dan ternyata dua sosok bernama yang sama itu, KH Ahmad Dahlan Termas dan KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, sama-sama mengaji di Pondok Pesantren KH Sholeh Darat.

KH Ahmad Dahlan Termas (sebagian orang menyebut KH Ahmad Dahlan Semarang) merupakan putra dari Abdullah bin Abdul Mannan bin Demang Dipomenggolo I yang merupakan keturunan Ketok Jenggot punggawa Keraton Surakarta, tokoh cikal bakal berdirinya daerah Termas. Dipomenggolo I merupakan seorang santri ahli agama yang berdarah bangsawan yang mendirikan Pesantren Semanten. Salah satu putra Dipomenggolo bernama Mas Bagus Sudarso juga dikirim belajar agama di Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo. Di pesantren yang juga mengkaji budaya ini diasuh Bagus Burhan atau Ronggowarsito.
 
Kakak dari KH Ahmad Dahlan adalah KH Mahfudz Termas (1842-1920) dan adiknya bernama KH Dimyati Termas (wafat 1934). Tiga bersaudara ini memiliki keilmuan yang sangat luar biasa. Dunia pesantren sangat mengakui peran besar kakak-beradik ini dalam keilmuan-keilmuan agama Islam terutama paham ahlussunnah wal jama’ah.
 
Sosok KH Ahmad Dahlan yang sangat pandai tidak bisa dilepaskan dari kiprah keluarganya. Keluarga Termas memang sudah dikenal melahirkan ulama Nusantara yang sangat berkontribusi besar dalam dunia pesantren. Misalnya KH Mahfudz Termas dikenal sebagai ulama yang memiliki puluhan karya kitab dan spesialis di bidang hadits, telah mencetak murid yang menjadi ulama pesantren. 
 
Keahlian KH Ahmad Dahlan Termas dalam bidang ilmu falak ditandai dengan penyebutan namanya dengan sebutan KH Ahmad Dahlan Alfalaky. Kepandaiannya dalam ilmu agama, menjadikannya diambil sebagai menantu KH Sholeh Darat. Ia dinikahkan dengan putri KH Sholeh Darat bernama RA Siti Zahra dari jalur istri RA Siti Aminah binti Sayyid Ali. Dari pernikahan ini, pada tahun 1895, melahirkan anak bernama Raden Ahmad Al Hadi yang kelak ketika dewasa menjadi tokoh Islam di Jembrana Bali.
 
KH Ahmad Dahlan memulai pendidikannya dari para kiai yang ada di Termas kemudian melanjutkan belajar kepada kakaknya KH Mahfudz Termas yang ada di Makkah. Saat di tanah suci inilah KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan ahli falak Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari Bawean Madura (wafat 1921). Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari mempunyai karya Kitab Muntaha Nataiji al Aqwal.

Dalam buku Materpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1320-1945 karya Zainul Milal Bizawie disebutkan bahwa KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Muhammad Hasan Asy’ari berangkat menuju beberapa wilayah Arab dan menuju ke Al Azhar Kairo. Di Kairo keduanya berjumpa dengan dua ulama Nusantara: Syaikh Jamil Djambek dan Syaikh Ahmad Thahir Jalaludin. Selama di Kairo keduanya mengkhatamkan kitab induk ilmu falak karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri, Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid yang ditulis awal abad 19.
 
Setelah selesai belajar di Arab, kemudian ia pulang ke tanah air. Berdasarkan saran dari kakaknya, sesampai di tanah air KH Ahmad Dahlan bersama dengan Syaikh Hasan Asy’ari diminta untuk belajar agama dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Maka pesan itu dilaksanakan. KH Ahmad Dahlan mengaji dengan KH Sholeh Darat di Semarang. Dan sudah menjadi tradisi para ulama Nusantara, para santri yang sudah belajar di Arab tetap diminta belajar di Indonesia lagi, terutama dengan KH Sholeh Darat atau KH Cholil Bangkalan.
 
Karya-karya di bidang Falak yang dilahirkan oleh KH Ahmad Dahlan adalah: Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati (selesai ditulis 1901), Natijah al Miqat (selesai ditulis 1903) dan Bulughu al Wathar (selesai ditulis 27 Dzul Qa’dah 1320 di Darat Semarang). Ditengarai, masih banyak karya-karya KH Ahmad Dahlan yang sampai sekarang belum terlacak. 
 
Dalam kitab Tadzkiratu al Ikhwan fi Ba’dli Tawarikhi wal ‘Amali al Falakiyati ditegaskan oleh Zainul Milal Bizawie sebagai kitab hisab awal bulan pertama yang ditulis oleh ulama Nusantara. Ini menjawab atas dugaan selama ini bahwa kitab hisab awal bulan yang pertama ditulis adalah Sullam Nayyirin yang baru ditulis 1925. Pola kitab karya KH Ahmad Dahlan masih menggunakan angka Abajadun dengan memakai Zaij Ulugh Beik.

Kitab Natijah al Miqatberisi tentang kaidah ilmu falak tentang penggunaan rubu’ mujayyab dalam penentuan awal waktu shalat dan arah kiblat. Dalam kitab ini juga dirangkumkan pemikiran-pemikiran guru KH Ahmad Dahlan: Syaikh Husain Zaid Mesir, Syaikh Abdurrahman bin Ahmad Mesir, Syaikh Muhammad bin Yusuf Makkah dan KH Sholeh Darat. Kemudian pada tahun 1930, kitab Natijah al Miqatdisyarahi oleh Syaikh Ihsan Jampes (wafat 1952) dengan kitabnyaTashrihu al Ibarat.
 
Kitab Bulughu al Watharini merupakan kitab falak pertama yang ditulis ulama Nusantara dengan sistem haqiqi tahqiqi. Kitab ini selesai ditulis bersamaan dengan kitab Muntaha Nataij al Aqwal karya Syaikh Hasan Asy’ari Bawean. Induk kitab yang dirujuk dalam membuat Bulughu al Wathardan Muntaha Nataij al Aqwal berasal dari ilmu zaij kitab Al Mathla’ fi Al Sa’id fi Hisabi al Kawakib ‘ala Rashdi al Jadid karya Syaikh Husain Zaid Al Mishri.
 
Khazanah keilmuan falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Hasan Asy’ari Bawean ini yang turut serta mewarnai perkembangan ilmu falak di Pondok Pesantren. Dinamika keilmuan falak di dunia pesantren selalu merujuk pada kajian-kajian ilmiah ulama Nusantara yang mampu mengembangkan ilmu falak yang berasal dari Arab.
 
KH Ahmad Dahlan dalam kesehariannya, bersama keluarga menempati rumah di sekitar Masjid Agung Kauman Semarang. KH Ahmad Dahlan selain dikenal sebagai ulama, juga ahli dalam bidang dagang dan tergolong berekonomi kuat (punya banyak toko di Pasar Johar). Bekal itulah yang digunakan untuk berjuang membangun dakwah Islam di Kota Semarang. Dan sepeninggal KH Sholeh Darat pada tahun 18 Desember 1903, Pondok Pesantren Darat diasuh oleh KH Ahmad Dahlan.
 
Selama kurang lebih delapan tahun, KH Ahmad Dahlan menggantikan guru sekaligus mertuanya mendidik para santri yang belajar ilmu agama di Pondok Pesantren Darat. Dengan segala dedikasi penuh, para santri yang mengaji di Pondok tersebut diajar sebagaimana cara KH Sholeh Darat mendidik. Termasuk KH Ahmad Dahlan mengajarkan ilmu falak kepada para santri-santrinya dengan menggunakan tiga kitab falak yang ditulisnya.
 
Keahlian ilmu falak yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan tidak pernah lepas dari keahlian falak yang dimiliki oleh KH Sholeh Darat. Dalam beberapa kisah disebutkan bahwa KH Sholeh Darat yang merupakan guru dari ulama Jawa ini sangat tepat dalam menghitung waktu shalat dan penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawwal. 
 
Proses penegasan dalam penentuan waktu shalat dan Ramadhan ia tegaskan dalam beberapa karyanya. Termasuk keterbukaan KH Sholeh Darat dalam mengawal tradisi “Dugderan” di Kota Semarang sebagai bentuk kepedulian ilmu falak dan ilmu sosial. Dimana ketika masyarakat Semarang ingin menyambut kehadiran Ramadhan dirayakan dengan bunyi-bunyi bedug dan petasan, maka disebut dug der (dug bunyi bedug dan der bunyi petasan).
 
Keahlian falak yang dimiliki KH Sholeh Darat adalah ketika diminta menghitung jumlah palawija yang ada di dalam karung oleh Belanda. Dengan sangat cepat berdasar ilmu hitung falaknya, maka KH Sholeh Darat memberikan jawaban dengan tepat. Kekaguman Belanda pada prediksi jumlah isi palawija itulah yang menjadikan Belanda kagum dengan ilmu falak KH Sholeh Darat.
 
Putra KH Ahmad Dahlan yang bernama Raden Ahmad Al Hadi berdakwah menuju Loloan Timur Jembrana Bali adalah karena mendapatkan isyarat dari KH Cholil Bangkalan (1820-1925) selaku gurunya. Selain itu, setelah KH Ahmad Dahlan wafat, Ibunya menikah lagi dengan KH Amir dan pindah ke Simbang Kulon Pekalongan. Dengan bekal ilmu agama yang dimiliki itu, putra KH Ahmad Dahlan bernama Ahmad ini berdakwah ke Bali. 
 
Sebagaimana ayahnya, Raden Ahmad Al Hadi sangat senang dengan ilmu pengetahuan agama. Walaupun sejak kecil sudah dilatih berdagang di Pasar Johar Semarang, namun Raden Ahmad Al Hadi tetap semangat mengaji. Sehingga di usia 16 tahun ketika ia ditinggal wafat KH Ahmad Dahlan ia ikut belajar di Pondok Pesantren ayah tirinya, KH Amir. Setelah itu ia merantau dari pondok ke pondok hingga pernah belajar Makkah.
 
Sebagaimana dijelaskan oleh KH Fathur RA (anak kandung Raden Ahmad bin Ahmad Dahlan), bahwa Raden Ahmad sangat tinggi minat belajarnya. Pondok Pesantren yang dijadikan tempat mencari ilmu adalah: Pondok Pesantren Kaliwungu (berteman dengan KH Abul Choir selama dua tahun), Pondok Pesantren Buntet Cirebon (belajar ilmu silat), Pondok Pesantren Kiai Umar Sarang (belajar ilmu alat), Pondok Pesantren KH Munawwir Krapyak Yogyakarta (belajar Al Qur’an), Pondok Pesantren KH Dimyati Termas, Pondok Pesantren KH Idris Jamsaren Solo.
 
Setelah tamat dari Pondok Manbaul Ulum Jamsaren Solo dengan bekal Beslit dari Governoor Belanda Jawa Tengah, Raden Ahmad melanjutkan belajar ke Makkah dan Madinah berguru dengan pamannya sendiri, KH Mahfudz Termas. 
 
Sepulang dari Arab, Raden Ahmad masih mengaji dengan KH M Hasyim Asy’ari di Jombang (satu tahun) dan KH Cholil Bangkalan Madura (satu tahun). Saat di Bangkalan inilah ia bertemu dengan KH Kusairi Shiddiq (mertua KH Abdul Hamid Pasuruan). Perintah Kiai Cholil pada Raden Ahmad adalah menuju Bali bertemu dengan murid Kiai Cholil yang bernama Tuan Guru Haji Muhammad di Loloan Timur Jembrana Bali. Dan ia jalani hingga mendirikan Pondok Pesantren Manba’ul Ulum di Jembrana Bali. Nama “Manba’ul Ulum“ adalah tabarukan dengan almamaternya saat mondok di Jamsaren.Wallahu a’lam.

M. Rikza Chamami
Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo

FOTO : Makam KH. Ahmad Dahlan berada disisi timur Makam KH. Sholeh Darat di Makam Bergota Semarang


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID ~ Dalam rangka memperingati hari lahir IPNU yang ke 63 dan IPPNU yang ke 62, PC IPNU IPPNU KABUPATEN SEMARANG menggelar serangkaian acara pada hari Sabtu - Minggu tanggal 25 - 26 Februari 2017 di MTs Amal Soleh Kec. Getasan, Kab. Semarang yang dihadiri sekitar 80 pengurus pimpinan cabang dan anggota - anggota IPNU IPPNU se Kab. Semarang. 

Adapun serangkaian acara dimulai ba'da maghrib, mulai dari sholat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan acara ubudiyah yaitu melestarikan tradisi ahlusunnah wal jamaah yaitu tahlilan, setelah itu dilanjutkan sholat isya’ berjamaah dan selanjutnya mulai acara pembukaan.

Ketua PC IPNU Kab. Semarang Rekan Muchamad Fahmi Latif mengajak kepada semua pengurus dan anggota untuk selalu menjaga tradisi ke NUan dimana saja dan kapan saja, karrna diakui itu adalah salah satu bagian dari menjaga kedaulatan dan stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesai dan membuktikan kalo organisasi IPNU IPPNU adalah bagian dari yang menjaga dan melestarikan tradisi NU. Itu adalah sebabnya IPNU dan IPPNU sampai hari ini masih hidup dan justru semakin berkembang, beliau menekankan kepada para pengurus untuk lebih mensolidkan diri dan lebih banyak lagi meluangkan waktu untuk organisasi sebagai refleksi atas perjalanan organisasi kalo tidak solid dan masif akan semakin pupus dan lama kelamaan akan hilang sendirinya di telan zaman. Beliau juga menghimbau untuk seluruh kader supaya selalu meraungkan kemenangan dan mampu menjadi garda terdepan dalam mengawal santri dan pelajar nusantara dalam mengemban amanah dan mengabdikan diri untuk agama, nusa, dan bangsa.

Selanjutnya adalah sambutan dari Kyai Syarif yang mewakili PCNU Kab. Semarang serta membuka acara pada malam hari itu. Beliau sangat apresiatif terhadap kegiatan IPNU IPPNU karena dinilai sangat baik dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat, karena IPNU IPPNU adalah generasi penerus yang selanjutnya akan meneruskan perjuangan kakak - kakak senior yang sekarang ada di Ansor dan Fatayat bahkan bisa meneruskan para ulama yang berada dikepengurusan NU sendiri. Beliau berpesan agar seluruh kader baik pengurus ataupun anggota untuk "Ngilo" dalam Bahasa Indonesia artinya mengaca, refleksi beliau artikan untuk mengaca apa yang telah terjadi, yang buruk jangan sampai terulang lagi dan yang baik harus dijaga dan lebih dikembangkan lagi supaya IPNU dan IPPNU tetap hidup selama lamanya. Beliau menekankan agar semua pengurus harus terlibat aktif dalam seluruh kegiatan yang sudah direncanakan agar IPNU IPPNU bisa tetap hidup dan terasa budaya gotong royong dan kekeluargaanya.

Acara pada malam hari itu sangat  istimewa karena memunculkan program baru yang mulai diagendakan pada Bulan Maret kedepan. Seluruh pengurus menyepakati untuk menghidupkan selapanan yang diberi nama SELARUT (selapan rutin) PC IPNU IPPNU Kab. Semarang yang akan mulai dilaksanakan tanggal 12 Maret 2017 di Kec. Banyubiru. Lapanan itu ditetapkan setiap hari Ahad Legi.

Pembahasan lainya adalah mengenai pentingnya kaderisasi yang juga diagendakan kedepan untuk mengadakan LATFAS, PESANTREN RAMADHAN dan LAKMUD.

Acara malam itu berakhir pukul 01.00 dini hari. Pagi harinya dilanjutkan dengan senam islam nusantara dan outbond serta terakhir adalah penutupan kegiatan, bukan hanya itu saja karena sebelum pulang para pengurus juga menjenguk anggota IPPNU yang juga sedang sakit dirumah dan setelah itu pulang kerumah masing - masing.



TIM REDAKSI
Lembaga Pers Dan Penerbitan PC. IPNU Kab. Semarang 
Jurnalis : Danang .P .W 

KONTAK KAMI (VIA E-MAIL)

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget