Posting Terbaru

 IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah. 

***
Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan  putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda. 

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki. 

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya. 

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip NU Online. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam (Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir NU Online. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak  menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***
Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan. 

Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan. Wallahu a’lam.

Ahmad Naufa Khoirul Faizun,Kader Muda NU dan Kontributor NU Online asal Purworejo, Jawa Tengah


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Mbah Umar Syahid alias Mbah Umar Tumbu sosok ulama  yang pengabdiannya pada NU dan bangsa Indonesia tanpa batas.  Ketika fisiknya  masih kuat, beliau mengelilingi pulau Jawa untuk menyiarkan Islam ala NU dengan modal jualan tumbu. Ketika tidak lagi mampu berjalan, bukan berarti pengabdiannya selesai. Sebaliknya beliau memberi contoh yang sangat bagus, seolah menyindir kita yang masih sehat.

Beliau rela meninggalkan pesantrennya kemudian mendirikan pendopo NU di atas lahan 1900 meter, di sebuah desa di puncak bukit di Pacitan Selatan. Di sebelah pendopo itu didirikan menara NU setinggi 17meter, yang dari dasar hingga puncaknya tertera logo NU serta tak lupa bendera Merah Putih.

Orang lain akan menganggap ini perbuatan sia-sia,  mengerjakan sesuatu yang tak jelas manfaatnya karena di pedalaman yang jarang dilihat dan didatangi orang. Tapi  beliau sedang membuat mercusuar untuk memberi kabar pada dunia bahwa NU masih ada walaupun sekian lama ditindas orang.

Menara itu juga merupakan mercusuar, agar kapal yang lewat, agama lain dan ideologi lain tidak menabrak bumi NU ini. Kalau kapal sampai menabrak bumi Nusantara bisa pecah dan tenggelam karena yang ditabrak adalah karang. Menara itu dirancang sendiri dan dibangun sendiri. Setelah itu dilakukan pada PCNU Pacitan. Sekali lagi beliau menyindir kita.

Kalau selama ini banyak orang NU mengambil aset NU, sebaliknya beliau menyerahkan aset dan fasilitasnya pada NU.  Di hari tuanya, sang waliyullah itu rela hidup sendiri di tempat sepi sebagai Banser atau satpam penjaga mercusuar NU itu.

Persis seperti KH Muchit, walaupun sudah sangat uzur, kalau diajak bicara NU dan NKRI ia langsung perkasa kembali saking semangat dan cintanya pada NU. Justri saya yang merasa kasihan, tetapi setiap panutan selalu  menahan seolah ada yang ingin disampaikan dan ada banyak hal yang ingin beliau tanyakan kepada kami bagaimana keadaan NU sekarang ini.

Semoga kita tidak hanya bisa mengagumi. Tentu beliau akan bahagia kalau kita bisa meneladani. Maka tercapailah cita-cita beliau itu meninggal sebagai orang NU (wa la tamutunna illa wa antum Nahdliyun). Demikian kesan pertemuan saya dengan beliau sesaat sebelum beliau mengakhiri perjuangannya untuk bertemu dengan Tuhan. (Wasekjend PBNU Abdul Mun'im DZ)


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Empat hari (23-26 Januari 2017) penulis mengikuti perjalanan Anjangsana Islam Nusantara sungguh membahagiakan. Perjalanan dari Jakarta menyusuri pantura hingga Surabaya, Jombang hingga Yogyakarta. Sayangnya, penulis harus berhenti di Surabaya dan kembali ke Jakarta. Rombongan kami 17 orang. 

Tidak hanya mengunjungi yang masih hidup, tapi juga yang sudah meninggal. Makam sejumlah tokoh, mulai dari Baing Yusuf di Purwakarta, Mbah Kuwu Sangkan atau Pangeran Cakrabuana-tokoh penting penyebar Islam di Cirebon, Habib Hasyim bin Umar bin Yahya di Pekalongan, dan seterusnya hingga makan Mbah Bisri Mustofa di Rembang dan Mbah Abdullah Faqih di Langitan, Tuban.

Sesepuh-sesepuh NU juga kami datangi untuk mendapat wejangan waskita. Nama-nama terkenal seperti Abah Thohir (Cirebon), Habib Lutfi bin Yahya (Pekalongan), KH Dimyati Rois (Kaliwungu Kendal), KH Ahmad Mustofa Bisri (Rembang), Mbah Maimoen Zubair (Sarang Rembang) kami datangi satu per satu. Banyak sekali cerita yang ingin kami tulis. Pada saatnya.

Penulis ingin mengawali cerita kecil pada kunjungan ke KH Taufiq, Pengasuh Pesantren At-Taufiqy Rowokembu, Wonopringgo, Pekalongan, Jawa Tengah. Pesantren ini dikunjungi Presiden Jokowi beberapa minggu lalu ketika Presiden menghadiri acara Maulid Akbar bersama Jamaah Kanzus Sholawat yang dipimpin Habib Luthfi bin Yahya.

Penulis tertarik menceritakan Kiai Taufiq karena sosok ini tidak seperti sosok-sosok kiai lain yang sering diberitakan media. Mungkin masyarakat juga tidak banyak yang tahu wajah Kiai Taufiq, karena memang beliau tidak terlalu suka di foto. Bahkan, salah satu pimpinan rombongan kegiatan Anjangsana Mas Zastrouw Ngatawi yang sudah cukup kenal dengan Kiai Taufiq sudah mewanti-wanti agar tidak mengambil gambar Kiai Taufiq. Benar saja, diantara kami tidak ada yang berani mengambil gambar. Konon, beliau juga tidak berkenan foto berdua dengan Presiden Jokowi ketika berkunjung.

Sekitar pukul 10.30 WIB kami memasuki gang tidak terlalu besar menuju kediaman sekaligus pesantren beliau. Langkah kami tertahan. Kebetulan, setiap hari Selasa beliau memberi pengajian khusus untuk perempuan. Esok harinya, Rabu, khusus untuk jamaah laki-laki. Hampir di semua mulut gang penuh jamaah perempuan. Bukan hanya gang yang penulis lalui, tetapi juga semua gang yang menghubungkan jalan raya ke rumah beliau dipenuhi jamaah yang berjajar rapi. Emperan rumah-rumah warga juga hampir semua penuh. Ribuan orang.

Atas kebaikan seseorang yang tampaknya sudah akrab dengan Mas Zastrouw, kami diajak menunggu di teras masjid. Sekitar 15 menit kami duduk, dari pengeras suara yang berjajar di setiap sudut gang, suara lirih Kiai Taufiq mulai terdengar memimpin doa. 

Begitu doa selesai, jamaah yang semua perempuan itu keluar melalui setiap mulut gang. Kami mengamati setiap jamaah yang keluar di samping masjid tempat kami duduk. Ribuan orang keluar mengantri. “Ini jamaah kok gak habis-habis dari tadi,” celetuk sahabat penulis Abdul Moqsith Ghazali yang duduk di sebelah penulis.

Setelah jamaah agak sepi, salah satu putra Kiai Taufiq menghampiri kami di serambi masjid. Sekitar 400 meter kami berjalan menuju komplek pesantren. Penulis mengamati kanan kiri komplek pesantren. Penulis menemukan aura yang agak berbeda. Jika selama ini pesantren dikesankan sebagai tempat yang kumuh dan kotor, pesantren ini sangat bersih.

Kami diarahkan menunggu di sebuah ruangan dalam gedung berlantai 2 yang bersih. Begitu kami masuk ruangan, seorang santri segera menuju ke tempat kami melepas sandal dan sepatu. Dia merapikan sandal dan sepatu yang kami lepas sembarangan. Arahnya pun di balik, sehingga begitu keluar ruangan tamu tinggal memakai. Sambil menunggu Kiai Taufiq, penulis menuju ke toilet. Penulis surprise, ternyata toiletnya sangat bersih. Ada santri yang menjaga dan membersihkan setiap toilet selesai digunakan.

Sekitar 10 menit kami menunggu. Datanglah seorang kiai dengan wajah bersih, teduh dan penuh senyum. Kami pun berdiri menyambut dan mencium tangannya. Suaranya lirih, tidak menggebu-gebu. Sorot matanya sangat sejuk. “Ini memang sorot mata khas guru tarekat, menyejukkan,” kata sahabat Abdul Moqsith. 

Dengan suara yang tidak terlalu keras, beliau banyak cerita tentang guru-gurunya, terutama Kiai Masduqi Lasem. Kiai Masduqi yang pernah berguru di Pesantren Termas termasuk kiai yang sangat mempengaruhi beliau. Cerita soal ini bisa baca: Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan.

Tak terasa, adzan dhuhur mulai berkumandang. Pembicaraan berhenti sebentar. Semula kami menduga, Kiai Taufiq mengajak kami sholat jamaah. Ternyata tidak. Beliau masih mengajak kami mengobrol cerita tentang sanad keilmuannya. Kiai Taufiq juga menceritakan kolom Gus Dur yang ditulis di Majalah Tempo tahun 70-an yang menceritakan tentang Kiai Masduqi dan Syekh Yasin al-Fadany.

Tibalah saatnya, beliau mengajak kami melihat komplek pesantren yang berada di seberang tempat kami diterima. Wow…luar biasa. Pesantren ini seperti taman kota. Kamar-kamar santri di kelilingi pohon-pohon yang rindang. Bangunan pesantren masih ada yang terbuat dari welet. Semua tertata rapi dan bersih. 

Ketika salah seorang teman bertanya: “Kiai, ini yang mendesain siapa kok bisa seperti ini?” “Ya saya sendiri dan para santri”. Bahkan, para santrilah yang membangun ini semua,” kata beliau sambil menunjuk beberapa bangunan.

“Bagaimana kiai mengajarkan semua ini kepada santri, terutama soal kebersihan?” Tanya seorang teman. “Saya tidak pernah mengajarkan dengan kata, tapi dengan perbuatan. Kalau ada sampah, saya ambil sapu. Saya bersihkan. Santri lama-lama mau sendiri dan sapu saya dia rebut,” kata Kiai Taufiq. Dengan cara itu Kiai Taufiq mengajarkan kebersihan kepada sekitar empat ribu santrinya.

Tibalah saatnya makan siang. Kami diajak naik ke lantai 2 gedung tempat kami diterima. Ada hal menarik bagaimana beliau mengajarkan cara makan. “Jangan sampai ada yang tersisa sedikit pun,” kata beliau. Piring Kiai Taufiq bersih seperti habis dicuci. “Tahu ini tugasnya membersihkan semua yang tersisa,” kata beliau sambil memegang seiris tahu dan mengelapkan ke piring beliau. Kami pun akhirnya tengak tengok siapa yang piringnya tidak bersih.

“Kemarin waktu Presiden Jokowi ke sini, menterinya saya ajak makan di sini. Ada menteri yang membersihkan piringnya dengan tisu,” cerita Kiai Taufiq sambil terus membersihkan piringnya dengan tahu. “Beginilah cara kita mensyukuri nikmat Allah. Jangan ada yang dimubadzirkan,” katanya.

Setelah selesai makan, kami segera berpamitan. Atas bisikan Mas Zastrouw, kami ingin sekali bisa foto bersama. Beruntung, beliau kerso difoto meskipun Mas Zastrouw mewanti-wanti sekali lagi agar foto bersama tersebut tidak dipublikasikan untuk menghormati Kiai Taufiq.

Tak lupa minta doa beliau. Dalam perjalanan pulang menuju jalan raya, seorang teman berseloroh: “Mursyid tarekat tapi santai banget. Ada adzan tidak terburu-buru sholat, tapi memilih menghormati tamunya”. 

Itulah cerita kecil saat sowan ke Kiai Taufiq Pekalongan.

Rumadi Ahmad,Ketua Lakpesdam PBNU


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Muslim terbaik ialah orang yang mampu membawa perubahan. Dalam Al-Qur’an, istilah perubahan ini identik dengan kata, al-amru bil ma’ruf wa nahy ‘anil munkar (menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Pada surat Ali Imran ayat 110 misalnya, disebutkan bahwa umat terbaik adalah orang yang mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Setiap Muslim diharuskan untuk melakukan hal ini, membawa perubahan di masyarakat sesuai dengan kemampuannya.

Dalam rangka mengajak kebaikan dan mengubah kebiasaan buruk individu maupun masyarakat, tentu harus punya cara dan metode tertentu agar orang yang diajak terbuka hatinya dan merubah kelakuan buruknya. Ibarat penyakit, penanganan dan pengobatannya harus bagus dan sesuai agar tidak bertambah parah dan segera pulih. Ulama sering menegaskan, jangan sampai mencegah kemungkaran dengan membuat kemungkaran yang baru.

KH Achmad Shiddiq dalam tulisannya berjudul “Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar sebagai langkah Pembinaan Khoiro Ummah dalam Masyarakat Pancasila” menjelaskan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan Amar Ma’ruf-Nahi Munkar (berikutnya disingkat AM-NH). Hal ini beliau tulis agar gerakan AM-NH produktif dan tidak menimbulkan masalah baru.

Pelaksanaan AM-NU terdiri dari empat unsur: muhtasib (pelaksana), muhtasab a’laih (objek/orang yang diajak), muhtasab fih (permasalahan), dan ihtisab (bentuk penanganan). Keempat unsur ini saling berkaitan dan apabila berubah salah satunya, maka pola penangananya pun akan berbeda. Misalnya, apabila kita ingin mengajak seorang anak  untuk berbuat baik dan rajin beribadah, tentu metodenya berbeda dengan orang dewasa. Menerapkan metode orang dewasa terhadap anak kecil akan menimbulkan masalah baru dan kemungkinan besar anak yang diajak tidak akan berubah.

KH Achmad menjelaskan, masing-masing unsur tersebut memiliki beberapa persyaratan dan skala prioritas. Dalam konteks ini, beliau mengutip pendapat Imam al-Ghazali bahwa muhtasib (pelaksana) haruslah ‘alim dan wara’. Orang yang akan melakukan AM-NH mestinya ialah orang yang berpengatahuan luas dan memahami betul persoalan yang sedang dihadapinya. Dia pun harus berhati-hati, bijak mengambil sikap, ikhlas, dan tidak mudah terpancing hawa nafsu. Apabila AM-NU dilakukan oleh organisasi atau kelompok, pimpinan organisasi dan ketua kelompoknya harus memiliki dua persyaratan ini: ‘alim dan wara’, setelah itu baru persyaratan ini dipenuhi oleh masing-masing anggotanya.

Pada saat berhadap dengan banyak masalah (muhtasab fih), seharusnya ada skala prioritas dalam menyelesaikannya. Tidak mungkin seluruh persoalan dapat diselesaikan dalam waktu bersamaan. Menurut KH Achmad, persoalan keimanan mestinya mendapatkan perhatian utama. Sebagaimana diketahui, iman terdiri dari tiga unsur: tasdiq bi qalbi (meyakini dalam hati), al-nutqu bi lisan (melafalkan dua kalimat syahadat), dan amal bi jawarih (melakukan amal shaleh). Peningkatan keimanan seseorang mesti dilakukan dengan cara yang baik dan bijak. Jangan sampai peningkatan kualitas keimanan  dilakukan dengan cara yang salah, tidak profesional dan bijaksana, seperti menggunakan kekerasan, mudah mengkafirkan, dan memusyrikan.

Terkait sasaran ajakan atau orang yang diajak (muhtasab ‘alaih), sejak deklarasi kembali ke Khittab 26, NU lebih fokus pada persoalan keumatan dan kemasyarakatan. NU berusaha agar kualitas iman dan Islam masyarakat Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan kualitas beragama tersebut dilakukan dengan cara yang halus dan tidak menyakitkan.

Dilihat dari sejarah perjuangan Rasulullah, pada tahap awal beliau lebih fokus pada pemantapan iman masing-masing individu, setelah itu baru memikirkan bagaimana membangun masyarakat Islam (islamic society building), dan pada saat tatanan sosial sudah terbangun, baru urusan pemerintah dan politik diatur agar masyarakat tetap sejahtera dan tercapainya misi kerahmatan Islam. Sebab itu, metode dan pendekatan dakwah yang digunakan Nabi pada saat berada di Mekah berbeda dengan Madinah. Wallahu a’lam

                                 Oleh Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - 
Hadirin yang dirahmati Allah, 
Islam menegaskan tentang pentingnya organisasi, jam’iyyah yang mampu menghadirkan kemaslahatan ummat. Menyatukan komitmen untuk menegakkan maslahat, merupakan tujuan dari ibadah sosial yang diserukan Islam.

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

Tidak ada kebaikan, pada kebanyakan pembicaraan-pembicaraan rahasia mereka, kecuali untuk menyuruh manusia memberi sedekah, atau menghadirkan kebaikan, atau mengupayakan perdamaian antara umat manusia (QS, An-Nisa: 114). 
Islam menyerukan pentingnya menghadirkan kemaslahatan umat sebagai wujud dari peran penting kaum muslim. Kita menyelenggarakan diskusi, rapat, musyawarah maupun berorganisasi, tidak ada baiknya di hadapan Allah, kecuali dengan tiga hal:

Pertama, أَمَرَ بِصَدَقَة. Islam menyerukan komitmen warga muslim untuk bersama-sama mengentaskan kemiskinan. Harakah islamiyyah (gerakan keislaman) perlu difokuskan untuk menghadirkan kesejahteraan. Kemiskinan akan mendorong umat menjadi lemah, dekat dengan kekufuran. Indonesia sebenarnya kaya raya, dikenal sebagai negeri zamrud khatulistiwa, yang di dalamnya terdapat pelbagai kekayaan alam; ragam fauna, tumbuhan, mutiara-mutiara hingga material tambang di perut bumi. Inilah yang harus dikelola sebagai kekayaan bangsa.
يقول الرسول صلى الله عليه وسلم  الناس شركاء في ثلاث الماء والكلأ والنار

“Rasulullah bersabda, ada tiga sumber energi yang menjadi milik bersama, yakni air, api dan hutan.”

Tentu saja, sabda Rasulullah ini harus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menegakkan bangsa yang berdaulat. Kedaulatan politik, ekonomi dan kebudayaan memerlukan komitmen kedaulatan energi. Sumber air yang melimpah, mutlak untuk kesejahteraan rakyat. Kekayaan minyak dan bahan tambang, harus menjadi sumber kedaulatan energi. Hutan-hutan yang luas, wajib dikelola untuk kemaslahatan bangsa ini. Dari kekayaan melimpah di negeri ini, ternyata masih banyak warga yang miskin. Tidak hanya miskin harta, namun juga miskin mental. Untuk itu, perlu ada dorongan sekaligus kebijakan untuk membuka lapangan kerja yang luas, yang memberi kesempatan bagi kader terbaik bangsa ini. Pembenahan mental mutlak dilakukan, agar kita mampu berkarya dan berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain.

Rumusan dasar negara, dalam Pasal 33 UUD 1945 mengingatkan kita tentang betapa pentingnya energi sebagai modal untuk mensejahteraan rakyat. Intinya, bukan hanya pertumbuhan ekonomi yang dikejar, akan tetapi yang lebih penting adalah pemerataan kesejahteraan. Pada titik ini, kebijakan strategis pemerintah menjadi kuncinya.

Kalau prinsip kepemimpinan dan tujuan kesejahteraan rakyat tidak sejalan-beriringan, maka ancamannya adalah kerusakan di segala bidang, yang menimbulkan murka dari Sang Pencipta Jagad Raya, Allah Subhanahu wata’ala.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّبَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُون

Kalau sekiranya kebenaran tunduk kepada kehendak hawa ¬nafsu mereka, niscaya rusaklah semua langit dan bumi dan segala apa yang ada di dalam¬nya. Bahkan Kami berikan ke¬pada mereka itu al-Quran untuk kehormatan sebutan mereka, namun mereka tetap berpaling dari kehormatan itu (QS: Al-Mu’minun: 71).

Hadirian sekalian, yang berlimpah Berkah 

Kedua, أَوْ مَعْرُوف. Kebaikan-kebaikan yang menghadirkan harapan. Islam menegaskan tentang pentingnya pengetahuan untuk membangun peradaban. NU berkomitmen untuk terus mengabdi dalam mencerdaskan bangsa dan menyehatkan warga. Dalam hal ini, sudah berlangsung di pelbagai penjuru negeri, pendirian Universitas-Universitas Nahdlatul Ulama, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Rumah Sakit yang menjadi bukti kongkret kiprah NU.

Komitmen untuk menghadirkan kecerdasan, hanya dapat tercapai dengan jalan ketaqwaan. Revolusi mental bangsa hanya dapat digapai dengan moral dan keteladanan. Gerakan mencerdaskan otak, menyegarkan mental, dan menjernihkan hati, akan mendorong lahirnya individu yang shalih, sekaligus juga masyarakat yang shalih. Bangsa yang paling mulia di hadapan Allah, ialah bangsa yang bertaqwa.

وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“…. dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujurat: 13)

Ketaqwaan inilah yang menjadi inspirasi bagi kalbu dan penjernih pikiran. Gerakan intelektual dan strategi kedaulatan, haruslah diiringi dengan kejernihan hati, kecerdasan moral, dan keteguhan mental. Allah menjanjikan derajat yang tinggi, maqaaman mahmuuda, bagi orang-orang dan bangsa yang memiliki keunggulan pengetahuan.
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS: Al-Mujaadalah: 11)

Upaya mencerdaskan generasi bangsa, adalah tugas strategis yang menjadi darma bakti warga nahdliyyin. Sejarah panjang hadirnya pesantren di negeri ini, menjadi penanda betapa kiai terdahulu sudah berkiprah dalam membangun pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat. Islam tidak hanya memikirkan aspek teologi maupun ritual semata. Al-islamu dinul tsaqofah wal hadharah wal insaniyyah. Islam adalah agama yang membangun pengetahuan, peradaban dan kemanusiaan. Mencerdaskan bangsa, sekaligus menyehatkan fisik dan mentalnya, tubuh dan jiwanya, merupakan komitmen bersama yang digariskan NU, sebagaimana teladan dari para kiai pendiri organisasi ini.

Tentu saja, pemerintah tidak mungkin menangani semua aspek dalam kehidupan warga negeri ini. NU sebagai jama’ah (komunitas) sekaligus jam’iyyah (organisasi) berkomitmen untuk membantu mencerdaskan warga negeri ini, agar mampu meraih kesejahteraan. Komitmen kami, terbukti dalam bidang pendidikan serta ekonomi kerakyatan.

Ketiga, أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ. Menjadi jembatan islah, rekonsiliasi antar masyarakat. Islam mengajarkan tentang pentingnya maslahah ‘ammah, kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. NU telah membuktikan, dalam sejarah panjangnya, sebagai mediator dalam konflik-konflik kemanusiaan, maupun sengketa kebangsaan. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’arie, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai NU lainnya, selalu menjadi penengah dalam situasi konflik.

Kiai Hasyim Asy’arie menjadi pejuang sekaligus penengah di awal masa kemerdekaan bangsa ini. Beliau dengan ikhlas memberikan  tongkat kepemimpinan negara kepada Soekarno, yang ia beri restu untuk mengawal NKRI. Kiai Wahab Chasbullah menjadi mediator dalam himpitan kolonial, untuk memperjuangkan kepentingan warga negara Indonesia. Kiai Wahid Hasyim, menjadi jembatan aspirasi antar kelompok, dalam masa awal kemerdekaan republik ini. Kiai-kiai lain juga berperan untuk tujuan yang sama, dalam ruang dan peran yang berbeda-beda. Tentu, dalam konteks sekarang, NU hadir sebagai mediator untuk menjaga kesatuan bangsa dan mengukuhkan NKRI, bahkan juga dalam sengketa agama dan kemanusiaan di dunia internasional.

NU tanpa pretensi politik praktis, selalu berperan menjadi perekat bangsa, mengawal utuhnya NKRI. Kiranya, jelas rumusan kebangsaan yang dapat menjadi referensi, sebagaimana termaktub dalam PBNU: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Untuk itu, NU sekali lagi menyerukan kepada pemerintah untuk berpegang kepada konstitusi, teguh pada dasar negara.
تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة
“Kebijakan seorang pemimpin mestilah merujuk pada kemaslahatan bersama.”
Konsep kepemimpinan ini bermakna substansial, sesuai dengan kaidah fiqh as-siyasah, yang tercermin dalam kitab al-Asybah wa an-Nadhair. Pemimpin mestilah berpegang pada prinsip untuk mensejahterakan rakyatnya, menyebar optimisme dan menghadirkan teladan kebaikan.

Nahdlatul Ulama selalu berkomitmen untuk mengawal negara, agar tidak terpecah belah dalam kepentingan rasial, etnik maupun manuver-manuver politik kelompok tertentu. Dalam sejarah Nahdlatul Ulama menjelang Satu Abad ini, organisasi ini bergerak dalam bidang-bidang strategis yang menghadirkan kemaslahatan untuk umat.


Jakarta, 5 September 2015

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj beberapa kali mendapat fitnah dan tuduhan tidak benar yang dalam waktu cepat tersebar di media sosial. Tanpa berusaha tabayun, sebagian orang begitu saja mempercayai sehingga termakan hoax atau berita palsu tentang Kiai Said.

Hal itu menjadi keprihatinan tersendiri bagi Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali. Ia berusaha mengungkapkan beberapa karakter yang melekat pada diri kiai asal Cirebon itu yang belum banyak diketahui dan dipahami oleh publik.

“Berkulit agak gelap. Tubuhnya gempal. Bicaranya penuh humor dan kelakar. Matanya seringkali menatap ke bawah dan sesekali memandang ke depan,” ujar Kiai Moqsith mengawali identifikasinya tentang Kiai Said yang ia kemukakan dalam akun facebook miliknya, Selasa (3/12).

Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta itu juga mengungkapkan bahwa Kiai Said suka mengutip puisi-puisi Arab klasik. Pandai bernyanyi. Hafal silsilah banyak tokoh, mulai dari silsilah para Nabi hingga silsilah para kiai. “Itulah Kiai Haji Said Aqil Siroj,” ucapnya.

Gus Dur, imbuh Kiai Moqsith, mengakui kealiman Kiai Said. Namun, bidang kealiman Kiai Said beda dengan bidang kealiman umumnya kiai pesantren. Jika kebanyakan kiai pesantren menguasai fiqih, tafsir, dan ushul fiqih, maka Kiai Said mendalami sejarah, filsafat, kalam, dan tasawuf.

“Pengetahuannya terhadap sejarah Islam sangat memukau. Ketika bertutur tentang kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya yang demikian detail, ia seperti hidup sezaman dengan mereka. Padahal kita tahu, Kiai Said sedang berada di abad 21 bukan di abad ketujuh,” tutur santri Mbah As’ad Syamsul Arifin itu.

Menurutnya, Kiai Said juga punya kemampuan menyederhanakan teori-teori filsafat yang rumit. Di tangan Kiai Said, filsafat bukan ilmu yang angker. Ia sanggup memahamkan orang lain perihal tasawuf falsafi Ibnu Arabi yang abstrak itu hanya dalam hitungan menit. 

“Sebuah keunggulan yang jarang dimiliki para akademisi lain,” kata Kiai Moqsith.

Namun, lanjutnya, penguasaan mendalam Kiai Said pada ilmu-ilmu keislaman "non-pesantren" seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Karena dia bisa menjelaskan sejarah dan doktrin Muktazilah secara rinci, maka sebagian orang menyangka bahwa Kiai Said adalah Muktazili.

Kiai yang akrab dengan peci Gus Dur-nya ini mengatakan, Kiai Said juga sangat piawai berbicara tentang Syiah. Dia mengerti hitam dan putihnya Syiah, dari A sampai Z. 

Walau begitu, lanjutnya, ia menangkis tuduhan sebagian orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah Syiah. "Saya mengerti Syiah, tapi saya bukan Syiah", klarifikasinya di berbagai kesempatan.

“Sayang sekali, belakangan banyak orang lebih percaya fitnah-fitnah tentangnya. Sehingga kita lalai untuk belajar langsung kepadanya,” ucap Kiai Moqsith prihatin.

nu.or.id

KONTAK KAMI (VIA E-MAIL)

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget