Posting Terbaru


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Empat hari (23-26 Januari 2017) penulis mengikuti perjalanan Anjangsana Islam Nusantara sungguh membahagiakan. Perjalanan dari Jakarta menyusuri pantura hingga Surabaya, Jombang hingga Yogyakarta. Sayangnya, penulis harus berhenti di Surabaya dan kembali ke Jakarta. Rombongan kami 17 orang. 

Tidak hanya mengunjungi yang masih hidup, tapi juga yang sudah meninggal. Makam sejumlah tokoh, mulai dari Baing Yusuf di Purwakarta, Mbah Kuwu Sangkan atau Pangeran Cakrabuana-tokoh penting penyebar Islam di Cirebon, Habib Hasyim bin Umar bin Yahya di Pekalongan, dan seterusnya hingga makan Mbah Bisri Mustofa di Rembang dan Mbah Abdullah Faqih di Langitan, Tuban.

Sesepuh-sesepuh NU juga kami datangi untuk mendapat wejangan waskita. Nama-nama terkenal seperti Abah Thohir (Cirebon), Habib Lutfi bin Yahya (Pekalongan), KH Dimyati Rois (Kaliwungu Kendal), KH Ahmad Mustofa Bisri (Rembang), Mbah Maimoen Zubair (Sarang Rembang) kami datangi satu per satu. Banyak sekali cerita yang ingin kami tulis. Pada saatnya.

Penulis ingin mengawali cerita kecil pada kunjungan ke KH Taufiq, Pengasuh Pesantren At-Taufiqy Rowokembu, Wonopringgo, Pekalongan, Jawa Tengah. Pesantren ini dikunjungi Presiden Jokowi beberapa minggu lalu ketika Presiden menghadiri acara Maulid Akbar bersama Jamaah Kanzus Sholawat yang dipimpin Habib Luthfi bin Yahya.

Penulis tertarik menceritakan Kiai Taufiq karena sosok ini tidak seperti sosok-sosok kiai lain yang sering diberitakan media. Mungkin masyarakat juga tidak banyak yang tahu wajah Kiai Taufiq, karena memang beliau tidak terlalu suka di foto. Bahkan, salah satu pimpinan rombongan kegiatan Anjangsana Mas Zastrouw Ngatawi yang sudah cukup kenal dengan Kiai Taufiq sudah mewanti-wanti agar tidak mengambil gambar Kiai Taufiq. Benar saja, diantara kami tidak ada yang berani mengambil gambar. Konon, beliau juga tidak berkenan foto berdua dengan Presiden Jokowi ketika berkunjung.

Sekitar pukul 10.30 WIB kami memasuki gang tidak terlalu besar menuju kediaman sekaligus pesantren beliau. Langkah kami tertahan. Kebetulan, setiap hari Selasa beliau memberi pengajian khusus untuk perempuan. Esok harinya, Rabu, khusus untuk jamaah laki-laki. Hampir di semua mulut gang penuh jamaah perempuan. Bukan hanya gang yang penulis lalui, tetapi juga semua gang yang menghubungkan jalan raya ke rumah beliau dipenuhi jamaah yang berjajar rapi. Emperan rumah-rumah warga juga hampir semua penuh. Ribuan orang.

Atas kebaikan seseorang yang tampaknya sudah akrab dengan Mas Zastrouw, kami diajak menunggu di teras masjid. Sekitar 15 menit kami duduk, dari pengeras suara yang berjajar di setiap sudut gang, suara lirih Kiai Taufiq mulai terdengar memimpin doa. 

Begitu doa selesai, jamaah yang semua perempuan itu keluar melalui setiap mulut gang. Kami mengamati setiap jamaah yang keluar di samping masjid tempat kami duduk. Ribuan orang keluar mengantri. “Ini jamaah kok gak habis-habis dari tadi,” celetuk sahabat penulis Abdul Moqsith Ghazali yang duduk di sebelah penulis.

Setelah jamaah agak sepi, salah satu putra Kiai Taufiq menghampiri kami di serambi masjid. Sekitar 400 meter kami berjalan menuju komplek pesantren. Penulis mengamati kanan kiri komplek pesantren. Penulis menemukan aura yang agak berbeda. Jika selama ini pesantren dikesankan sebagai tempat yang kumuh dan kotor, pesantren ini sangat bersih.

Kami diarahkan menunggu di sebuah ruangan dalam gedung berlantai 2 yang bersih. Begitu kami masuk ruangan, seorang santri segera menuju ke tempat kami melepas sandal dan sepatu. Dia merapikan sandal dan sepatu yang kami lepas sembarangan. Arahnya pun di balik, sehingga begitu keluar ruangan tamu tinggal memakai. Sambil menunggu Kiai Taufiq, penulis menuju ke toilet. Penulis surprise, ternyata toiletnya sangat bersih. Ada santri yang menjaga dan membersihkan setiap toilet selesai digunakan.

Sekitar 10 menit kami menunggu. Datanglah seorang kiai dengan wajah bersih, teduh dan penuh senyum. Kami pun berdiri menyambut dan mencium tangannya. Suaranya lirih, tidak menggebu-gebu. Sorot matanya sangat sejuk. “Ini memang sorot mata khas guru tarekat, menyejukkan,” kata sahabat Abdul Moqsith. 

Dengan suara yang tidak terlalu keras, beliau banyak cerita tentang guru-gurunya, terutama Kiai Masduqi Lasem. Kiai Masduqi yang pernah berguru di Pesantren Termas termasuk kiai yang sangat mempengaruhi beliau. Cerita soal ini bisa baca: Menelusuri Sanad Keilmuan Islam Nusantara dari KH Taufiq Pekalongan.

Tak terasa, adzan dhuhur mulai berkumandang. Pembicaraan berhenti sebentar. Semula kami menduga, Kiai Taufiq mengajak kami sholat jamaah. Ternyata tidak. Beliau masih mengajak kami mengobrol cerita tentang sanad keilmuannya. Kiai Taufiq juga menceritakan kolom Gus Dur yang ditulis di Majalah Tempo tahun 70-an yang menceritakan tentang Kiai Masduqi dan Syekh Yasin al-Fadany.

Tibalah saatnya, beliau mengajak kami melihat komplek pesantren yang berada di seberang tempat kami diterima. Wow…luar biasa. Pesantren ini seperti taman kota. Kamar-kamar santri di kelilingi pohon-pohon yang rindang. Bangunan pesantren masih ada yang terbuat dari welet. Semua tertata rapi dan bersih. 

Ketika salah seorang teman bertanya: “Kiai, ini yang mendesain siapa kok bisa seperti ini?” “Ya saya sendiri dan para santri”. Bahkan, para santrilah yang membangun ini semua,” kata beliau sambil menunjuk beberapa bangunan.

“Bagaimana kiai mengajarkan semua ini kepada santri, terutama soal kebersihan?” Tanya seorang teman. “Saya tidak pernah mengajarkan dengan kata, tapi dengan perbuatan. Kalau ada sampah, saya ambil sapu. Saya bersihkan. Santri lama-lama mau sendiri dan sapu saya dia rebut,” kata Kiai Taufiq. Dengan cara itu Kiai Taufiq mengajarkan kebersihan kepada sekitar empat ribu santrinya.

Tibalah saatnya makan siang. Kami diajak naik ke lantai 2 gedung tempat kami diterima. Ada hal menarik bagaimana beliau mengajarkan cara makan. “Jangan sampai ada yang tersisa sedikit pun,” kata beliau. Piring Kiai Taufiq bersih seperti habis dicuci. “Tahu ini tugasnya membersihkan semua yang tersisa,” kata beliau sambil memegang seiris tahu dan mengelapkan ke piring beliau. Kami pun akhirnya tengak tengok siapa yang piringnya tidak bersih.

“Kemarin waktu Presiden Jokowi ke sini, menterinya saya ajak makan di sini. Ada menteri yang membersihkan piringnya dengan tisu,” cerita Kiai Taufiq sambil terus membersihkan piringnya dengan tahu. “Beginilah cara kita mensyukuri nikmat Allah. Jangan ada yang dimubadzirkan,” katanya.

Setelah selesai makan, kami segera berpamitan. Atas bisikan Mas Zastrouw, kami ingin sekali bisa foto bersama. Beruntung, beliau kerso difoto meskipun Mas Zastrouw mewanti-wanti sekali lagi agar foto bersama tersebut tidak dipublikasikan untuk menghormati Kiai Taufiq.

Tak lupa minta doa beliau. Dalam perjalanan pulang menuju jalan raya, seorang teman berseloroh: “Mursyid tarekat tapi santai banget. Ada adzan tidak terburu-buru sholat, tapi memilih menghormati tamunya”. 

Itulah cerita kecil saat sowan ke Kiai Taufiq Pekalongan.

Rumadi Ahmad,Ketua Lakpesdam PBNU


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Muslim terbaik ialah orang yang mampu membawa perubahan. Dalam Al-Qur’an, istilah perubahan ini identik dengan kata, al-amru bil ma’ruf wa nahy ‘anil munkar (menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Pada surat Ali Imran ayat 110 misalnya, disebutkan bahwa umat terbaik adalah orang yang mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Setiap Muslim diharuskan untuk melakukan hal ini, membawa perubahan di masyarakat sesuai dengan kemampuannya.

Dalam rangka mengajak kebaikan dan mengubah kebiasaan buruk individu maupun masyarakat, tentu harus punya cara dan metode tertentu agar orang yang diajak terbuka hatinya dan merubah kelakuan buruknya. Ibarat penyakit, penanganan dan pengobatannya harus bagus dan sesuai agar tidak bertambah parah dan segera pulih. Ulama sering menegaskan, jangan sampai mencegah kemungkaran dengan membuat kemungkaran yang baru.

KH Achmad Shiddiq dalam tulisannya berjudul “Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar sebagai langkah Pembinaan Khoiro Ummah dalam Masyarakat Pancasila” menjelaskan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan Amar Ma’ruf-Nahi Munkar (berikutnya disingkat AM-NH). Hal ini beliau tulis agar gerakan AM-NH produktif dan tidak menimbulkan masalah baru.

Pelaksanaan AM-NU terdiri dari empat unsur: muhtasib (pelaksana), muhtasab a’laih (objek/orang yang diajak), muhtasab fih (permasalahan), dan ihtisab (bentuk penanganan). Keempat unsur ini saling berkaitan dan apabila berubah salah satunya, maka pola penangananya pun akan berbeda. Misalnya, apabila kita ingin mengajak seorang anak  untuk berbuat baik dan rajin beribadah, tentu metodenya berbeda dengan orang dewasa. Menerapkan metode orang dewasa terhadap anak kecil akan menimbulkan masalah baru dan kemungkinan besar anak yang diajak tidak akan berubah.

KH Achmad menjelaskan, masing-masing unsur tersebut memiliki beberapa persyaratan dan skala prioritas. Dalam konteks ini, beliau mengutip pendapat Imam al-Ghazali bahwa muhtasib (pelaksana) haruslah ‘alim dan wara’. Orang yang akan melakukan AM-NH mestinya ialah orang yang berpengatahuan luas dan memahami betul persoalan yang sedang dihadapinya. Dia pun harus berhati-hati, bijak mengambil sikap, ikhlas, dan tidak mudah terpancing hawa nafsu. Apabila AM-NU dilakukan oleh organisasi atau kelompok, pimpinan organisasi dan ketua kelompoknya harus memiliki dua persyaratan ini: ‘alim dan wara’, setelah itu baru persyaratan ini dipenuhi oleh masing-masing anggotanya.

Pada saat berhadap dengan banyak masalah (muhtasab fih), seharusnya ada skala prioritas dalam menyelesaikannya. Tidak mungkin seluruh persoalan dapat diselesaikan dalam waktu bersamaan. Menurut KH Achmad, persoalan keimanan mestinya mendapatkan perhatian utama. Sebagaimana diketahui, iman terdiri dari tiga unsur: tasdiq bi qalbi (meyakini dalam hati), al-nutqu bi lisan (melafalkan dua kalimat syahadat), dan amal bi jawarih (melakukan amal shaleh). Peningkatan keimanan seseorang mesti dilakukan dengan cara yang baik dan bijak. Jangan sampai peningkatan kualitas keimanan  dilakukan dengan cara yang salah, tidak profesional dan bijaksana, seperti menggunakan kekerasan, mudah mengkafirkan, dan memusyrikan.

Terkait sasaran ajakan atau orang yang diajak (muhtasab ‘alaih), sejak deklarasi kembali ke Khittab 26, NU lebih fokus pada persoalan keumatan dan kemasyarakatan. NU berusaha agar kualitas iman dan Islam masyarakat Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan kualitas beragama tersebut dilakukan dengan cara yang halus dan tidak menyakitkan.

Dilihat dari sejarah perjuangan Rasulullah, pada tahap awal beliau lebih fokus pada pemantapan iman masing-masing individu, setelah itu baru memikirkan bagaimana membangun masyarakat Islam (islamic society building), dan pada saat tatanan sosial sudah terbangun, baru urusan pemerintah dan politik diatur agar masyarakat tetap sejahtera dan tercapainya misi kerahmatan Islam. Sebab itu, metode dan pendekatan dakwah yang digunakan Nabi pada saat berada di Mekah berbeda dengan Madinah. Wallahu a’lam

                                 Oleh Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - 
Hadirin yang dirahmati Allah, 
Islam menegaskan tentang pentingnya organisasi, jam’iyyah yang mampu menghadirkan kemaslahatan ummat. Menyatukan komitmen untuk menegakkan maslahat, merupakan tujuan dari ibadah sosial yang diserukan Islam.

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

Tidak ada kebaikan, pada kebanyakan pembicaraan-pembicaraan rahasia mereka, kecuali untuk menyuruh manusia memberi sedekah, atau menghadirkan kebaikan, atau mengupayakan perdamaian antara umat manusia (QS, An-Nisa: 114). 
Islam menyerukan pentingnya menghadirkan kemaslahatan umat sebagai wujud dari peran penting kaum muslim. Kita menyelenggarakan diskusi, rapat, musyawarah maupun berorganisasi, tidak ada baiknya di hadapan Allah, kecuali dengan tiga hal:

Pertama, أَمَرَ بِصَدَقَة. Islam menyerukan komitmen warga muslim untuk bersama-sama mengentaskan kemiskinan. Harakah islamiyyah (gerakan keislaman) perlu difokuskan untuk menghadirkan kesejahteraan. Kemiskinan akan mendorong umat menjadi lemah, dekat dengan kekufuran. Indonesia sebenarnya kaya raya, dikenal sebagai negeri zamrud khatulistiwa, yang di dalamnya terdapat pelbagai kekayaan alam; ragam fauna, tumbuhan, mutiara-mutiara hingga material tambang di perut bumi. Inilah yang harus dikelola sebagai kekayaan bangsa.
يقول الرسول صلى الله عليه وسلم  الناس شركاء في ثلاث الماء والكلأ والنار

“Rasulullah bersabda, ada tiga sumber energi yang menjadi milik bersama, yakni air, api dan hutan.”

Tentu saja, sabda Rasulullah ini harus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menegakkan bangsa yang berdaulat. Kedaulatan politik, ekonomi dan kebudayaan memerlukan komitmen kedaulatan energi. Sumber air yang melimpah, mutlak untuk kesejahteraan rakyat. Kekayaan minyak dan bahan tambang, harus menjadi sumber kedaulatan energi. Hutan-hutan yang luas, wajib dikelola untuk kemaslahatan bangsa ini. Dari kekayaan melimpah di negeri ini, ternyata masih banyak warga yang miskin. Tidak hanya miskin harta, namun juga miskin mental. Untuk itu, perlu ada dorongan sekaligus kebijakan untuk membuka lapangan kerja yang luas, yang memberi kesempatan bagi kader terbaik bangsa ini. Pembenahan mental mutlak dilakukan, agar kita mampu berkarya dan berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain.

Rumusan dasar negara, dalam Pasal 33 UUD 1945 mengingatkan kita tentang betapa pentingnya energi sebagai modal untuk mensejahteraan rakyat. Intinya, bukan hanya pertumbuhan ekonomi yang dikejar, akan tetapi yang lebih penting adalah pemerataan kesejahteraan. Pada titik ini, kebijakan strategis pemerintah menjadi kuncinya.

Kalau prinsip kepemimpinan dan tujuan kesejahteraan rakyat tidak sejalan-beriringan, maka ancamannya adalah kerusakan di segala bidang, yang menimbulkan murka dari Sang Pencipta Jagad Raya, Allah Subhanahu wata’ala.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّبَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُون

Kalau sekiranya kebenaran tunduk kepada kehendak hawa ¬nafsu mereka, niscaya rusaklah semua langit dan bumi dan segala apa yang ada di dalam¬nya. Bahkan Kami berikan ke¬pada mereka itu al-Quran untuk kehormatan sebutan mereka, namun mereka tetap berpaling dari kehormatan itu (QS: Al-Mu’minun: 71).

Hadirian sekalian, yang berlimpah Berkah 

Kedua, أَوْ مَعْرُوف. Kebaikan-kebaikan yang menghadirkan harapan. Islam menegaskan tentang pentingnya pengetahuan untuk membangun peradaban. NU berkomitmen untuk terus mengabdi dalam mencerdaskan bangsa dan menyehatkan warga. Dalam hal ini, sudah berlangsung di pelbagai penjuru negeri, pendirian Universitas-Universitas Nahdlatul Ulama, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Rumah Sakit yang menjadi bukti kongkret kiprah NU.

Komitmen untuk menghadirkan kecerdasan, hanya dapat tercapai dengan jalan ketaqwaan. Revolusi mental bangsa hanya dapat digapai dengan moral dan keteladanan. Gerakan mencerdaskan otak, menyegarkan mental, dan menjernihkan hati, akan mendorong lahirnya individu yang shalih, sekaligus juga masyarakat yang shalih. Bangsa yang paling mulia di hadapan Allah, ialah bangsa yang bertaqwa.

وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“…. dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujurat: 13)

Ketaqwaan inilah yang menjadi inspirasi bagi kalbu dan penjernih pikiran. Gerakan intelektual dan strategi kedaulatan, haruslah diiringi dengan kejernihan hati, kecerdasan moral, dan keteguhan mental. Allah menjanjikan derajat yang tinggi, maqaaman mahmuuda, bagi orang-orang dan bangsa yang memiliki keunggulan pengetahuan.
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَتٍ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS: Al-Mujaadalah: 11)

Upaya mencerdaskan generasi bangsa, adalah tugas strategis yang menjadi darma bakti warga nahdliyyin. Sejarah panjang hadirnya pesantren di negeri ini, menjadi penanda betapa kiai terdahulu sudah berkiprah dalam membangun pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat. Islam tidak hanya memikirkan aspek teologi maupun ritual semata. Al-islamu dinul tsaqofah wal hadharah wal insaniyyah. Islam adalah agama yang membangun pengetahuan, peradaban dan kemanusiaan. Mencerdaskan bangsa, sekaligus menyehatkan fisik dan mentalnya, tubuh dan jiwanya, merupakan komitmen bersama yang digariskan NU, sebagaimana teladan dari para kiai pendiri organisasi ini.

Tentu saja, pemerintah tidak mungkin menangani semua aspek dalam kehidupan warga negeri ini. NU sebagai jama’ah (komunitas) sekaligus jam’iyyah (organisasi) berkomitmen untuk membantu mencerdaskan warga negeri ini, agar mampu meraih kesejahteraan. Komitmen kami, terbukti dalam bidang pendidikan serta ekonomi kerakyatan.

Ketiga, أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ. Menjadi jembatan islah, rekonsiliasi antar masyarakat. Islam mengajarkan tentang pentingnya maslahah ‘ammah, kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. NU telah membuktikan, dalam sejarah panjangnya, sebagai mediator dalam konflik-konflik kemanusiaan, maupun sengketa kebangsaan. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’arie, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai NU lainnya, selalu menjadi penengah dalam situasi konflik.

Kiai Hasyim Asy’arie menjadi pejuang sekaligus penengah di awal masa kemerdekaan bangsa ini. Beliau dengan ikhlas memberikan  tongkat kepemimpinan negara kepada Soekarno, yang ia beri restu untuk mengawal NKRI. Kiai Wahab Chasbullah menjadi mediator dalam himpitan kolonial, untuk memperjuangkan kepentingan warga negara Indonesia. Kiai Wahid Hasyim, menjadi jembatan aspirasi antar kelompok, dalam masa awal kemerdekaan republik ini. Kiai-kiai lain juga berperan untuk tujuan yang sama, dalam ruang dan peran yang berbeda-beda. Tentu, dalam konteks sekarang, NU hadir sebagai mediator untuk menjaga kesatuan bangsa dan mengukuhkan NKRI, bahkan juga dalam sengketa agama dan kemanusiaan di dunia internasional.

NU tanpa pretensi politik praktis, selalu berperan menjadi perekat bangsa, mengawal utuhnya NKRI. Kiranya, jelas rumusan kebangsaan yang dapat menjadi referensi, sebagaimana termaktub dalam PBNU: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Untuk itu, NU sekali lagi menyerukan kepada pemerintah untuk berpegang kepada konstitusi, teguh pada dasar negara.
تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة
“Kebijakan seorang pemimpin mestilah merujuk pada kemaslahatan bersama.”
Konsep kepemimpinan ini bermakna substansial, sesuai dengan kaidah fiqh as-siyasah, yang tercermin dalam kitab al-Asybah wa an-Nadhair. Pemimpin mestilah berpegang pada prinsip untuk mensejahterakan rakyatnya, menyebar optimisme dan menghadirkan teladan kebaikan.

Nahdlatul Ulama selalu berkomitmen untuk mengawal negara, agar tidak terpecah belah dalam kepentingan rasial, etnik maupun manuver-manuver politik kelompok tertentu. Dalam sejarah Nahdlatul Ulama menjelang Satu Abad ini, organisasi ini bergerak dalam bidang-bidang strategis yang menghadirkan kemaslahatan untuk umat.


Jakarta, 5 September 2015

IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj beberapa kali mendapat fitnah dan tuduhan tidak benar yang dalam waktu cepat tersebar di media sosial. Tanpa berusaha tabayun, sebagian orang begitu saja mempercayai sehingga termakan hoax atau berita palsu tentang Kiai Said.

Hal itu menjadi keprihatinan tersendiri bagi Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali. Ia berusaha mengungkapkan beberapa karakter yang melekat pada diri kiai asal Cirebon itu yang belum banyak diketahui dan dipahami oleh publik.

“Berkulit agak gelap. Tubuhnya gempal. Bicaranya penuh humor dan kelakar. Matanya seringkali menatap ke bawah dan sesekali memandang ke depan,” ujar Kiai Moqsith mengawali identifikasinya tentang Kiai Said yang ia kemukakan dalam akun facebook miliknya, Selasa (3/12).

Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta itu juga mengungkapkan bahwa Kiai Said suka mengutip puisi-puisi Arab klasik. Pandai bernyanyi. Hafal silsilah banyak tokoh, mulai dari silsilah para Nabi hingga silsilah para kiai. “Itulah Kiai Haji Said Aqil Siroj,” ucapnya.

Gus Dur, imbuh Kiai Moqsith, mengakui kealiman Kiai Said. Namun, bidang kealiman Kiai Said beda dengan bidang kealiman umumnya kiai pesantren. Jika kebanyakan kiai pesantren menguasai fiqih, tafsir, dan ushul fiqih, maka Kiai Said mendalami sejarah, filsafat, kalam, dan tasawuf.

“Pengetahuannya terhadap sejarah Islam sangat memukau. Ketika bertutur tentang kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya yang demikian detail, ia seperti hidup sezaman dengan mereka. Padahal kita tahu, Kiai Said sedang berada di abad 21 bukan di abad ketujuh,” tutur santri Mbah As’ad Syamsul Arifin itu.

Menurutnya, Kiai Said juga punya kemampuan menyederhanakan teori-teori filsafat yang rumit. Di tangan Kiai Said, filsafat bukan ilmu yang angker. Ia sanggup memahamkan orang lain perihal tasawuf falsafi Ibnu Arabi yang abstrak itu hanya dalam hitungan menit. 

“Sebuah keunggulan yang jarang dimiliki para akademisi lain,” kata Kiai Moqsith.

Namun, lanjutnya, penguasaan mendalam Kiai Said pada ilmu-ilmu keislaman "non-pesantren" seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Karena dia bisa menjelaskan sejarah dan doktrin Muktazilah secara rinci, maka sebagian orang menyangka bahwa Kiai Said adalah Muktazili.

Kiai yang akrab dengan peci Gus Dur-nya ini mengatakan, Kiai Said juga sangat piawai berbicara tentang Syiah. Dia mengerti hitam dan putihnya Syiah, dari A sampai Z. 

Walau begitu, lanjutnya, ia menangkis tuduhan sebagian orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah Syiah. "Saya mengerti Syiah, tapi saya bukan Syiah", klarifikasinya di berbagai kesempatan.

“Sayang sekali, belakangan banyak orang lebih percaya fitnah-fitnah tentangnya. Sehingga kita lalai untuk belajar langsung kepadanya,” ucap Kiai Moqsith prihatin.

nu.or.id


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendoakan mereka yang masih lajang pada tahun ini agar mendapatkan jodoh pada 2017.

"Teman-teman semua selamat tahun baru, sukses semuanya. Yang belum ada jodoh mudah-mudahan cepat dapat jodoh," ujar Mensos di Jakarta, Sabtu.

Doa Mensos tersebut disambut ucapan amin yang riuh dari awak media yang tengah meliput kunjungan Mensos menjenguk korban selamat dari peristiwa penyekapan Pulomas di RS Kartika Pulomas.

Mensos juga mendoakan bagi mereka yang belum mendapatkan keturunan agar segera mendapatkan anak.

"Pokoknya bahagia, sukses semua. Terima kasih," ucap Mensos.

Mensos direncanakan akan memberikan ceramah pada kegiatan Dzikir Nasional yang digelar harian Republika di Masjid At Tin, TMII, Jakarta Timur.

Kemudian, Mensos akan menghabiskan malam pergantian tahun di kampung halamannya di Jawa Timur. 

nu.or.id


IPNUIPPNUKABSEMARANG.OR.ID - Semakin tinggi derajat seseorang, semakin pula ia dihormati. Tapi Rasulullah punya nilai lebih. Sebagai manusia yang maksum dan pembawa risalah suci, sudah sepantasnya Baginda Nabi Muhamad shallallâhu ‘alaihi wasallam mendapat pemuliaan yang tinggi dari sahabat-sahabatnya. Namun nyatanya, justru Rasulullah-lah yang terdepan meneladankan sikap itu kepada mereka. Beliau yang enggan dihormati tampil sebagai sosok sangat menghormati orang lain.

Tentang hal ini ada sebuah kisah yang diriwayatkan Imam ath-Thabrani. Suatu kali Rasulullah menggelar sebuah pertemuan dengan para sahabatnya. Yang hadir cukup ramai, sehingga majelis itu terlihat sesak.

Di tengah padatnya peserta forum, Jarir bin Abdullah datang terlambat. Tentu ia tak mendapat jatah tempat duduk. Rasulullah yang mengetahui kondisi Jarir segera menggelar jubahnya lalu menyuruh Jabir duduk di atasnya.

Hati Jarir terenyuh menyaksikan akhlak luar biasa Rasulullah. Alih-laih mau duduk di atas pakaian Nabi, ia malah mengambil pakaian tersebut, mengangkatnya, lalu menciumnya sambil menangis tersedu-sedu. Batin Jarir, bisa-bisanya Rasulullah begitu menghormati dirinya di depan para sahabat yang lain padahal dia telat?

“Saya tak akan duduk di atas pakaianmu (ya Rasulullah). Semoga Allah memuliakanmu sebagaimana engkau memuliakan diriku,” kata Jarir yang haru campur kagum dengan sifat Rasulullah.

Rasulullah adalah sosok yang tak gandrung dengan penghormatan. Beliau lebih sering melayani ketimbang dilayani. Nabi menjahit pakaiannya sendiri yang bolong. Menyelesaikan keperluannya tanpa merepotkan orang lain. Pribadinya yang tawaduk juga enggan bila tangannya dicium, meski bukan berarti mengharamkannya. Demikianlah Rasulullah, puncak kemuliaannya tampil sempurna justru dalam kerendahatiannya.

nu.or.id

KONTAK KAMI (VIA E-MAIL)

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget